Kebangkitan Yesus pada Hari Ketiga atau Sesudah Hari Ketiga?


BLOGGERNES - Kronologis Kebangkitan Tuhan Yesus Kristus yang Perlu Anda Ketahui.

Pertanyaan:

Saya ingin bertanya mengenai kebangkitan Tuhan Yesus di dalam Matius 16:21 dan Markus 8:31, yang kelihatannya berbeda. di dalam Matius 16:21, disebutkan “… dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga,” sedangkan di Markus 8:31, “… dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.”


Bukankah hari ketiga dan sesudah tiga hari memiliki arti dan makna yang berbeda? Bagaimana menjelaskan hal ini yang kelihatannya ada perbedaan?

Jawaban:


Dua kalimat di atas kelihatannya bertentangan dan menimbulkan tanggapan yang berbeda bagi pembaca. Benarkah Tuhan Yesus dibangkitkan pada hari ketiga, ataukah bangkit sesudah tiga hari? Apakah kedua kalimat tersebut, memiliki kesamaan arti atau makna yang berbeda?

Untuk mengetahuinya, kita perlu melihat dari tradisi orang Yahudi mengenai konsep hari dan kronologis penyaliban Tuhan Yesus.

Ada yang beranggapan bahwa Tuhan Yesus mati pada hari Rabu dan bangkit sesudah hari ketiga, yakni pada hari keempat, hari Minggu.

Bukti yang digunakan berdasarkan Matius 12:40, “… Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” Jadi Yesus mati dan dikuburkan selama 72 jam, tiga hari dan tiga malam. Argumen tersebut menolak bahwa Yesus mati pada hari Jumat Agung. Benarkah demikian?

Perhitungan hari dalam budaya Yahudi, didasarkan pada Referensi ayat Alkitab pada kisah penciptaan yang tertulis dalam kitab kejadian 1, yakni “Jadilah petang dan jadilah pagi.”

Menurut penafsiran rabinik klasik atas teks ini, satu hari bagi orang Yahudi dimulai dari matahari terbenam yakni petang, hingga keesokan hari matahari terbenam, yakni petang. Memasuki hari dimulai pukul 06.00 sore sampai 06.00 sore.

Berbeda dengan konsep perhitungan hari pada umumnya termasuk di Indonesia, dalam memasuki hari berikutnya, dimulai pukul 00.00 dini hari sampai keesokkan harinya pukul 00.00 pada dini hari. Selain itu, dalam budaya Yahudi satu hari tidak mempunyai panjang yang tetap. Bagian dari satu hari, sependek apa pun, akan tetap dihitung sebagai satu hari penuh.

Jadi, tidak harus 24 jam lantas disebut satu hari, hanya terhitung beberapa jam saja, sudah dihitung satu hari.

Hal ini terlihat dalam kisah Ester ketika ia akan berpuasa menghadap Raja (Ester 4:16-5:1). Ester meminta seluruh bangsanya untuk berpuasa tiga hari lamanya, di waktu malam maupun waktu siang, namun pada hari ketiga ia menemui Raja. Meski Ester berpuasa bukan tiga hari penuh, tetapi terhitung tiga hari lamanya berpuasa.

Berdasarkan konsep waktu Yahudi ini, maka dapat ditemukan kronologis kebangkitan Tuhan Yesus Kristus, apakah bangkit pada hari ketiga ataukah sesudah hari ketiga. Namun faktanya Tuhan Yesus benar-benar mati disalibkan.

Kronologis penyaliban diawali pada penderitaanNya. Pada hari Kamis, dalam menyambut Paskah, Tuhan Yesus menyuruh murid-murid untuk mempersiapkan Perjamuan Paskah (Mat 26:17-24). Selanjutnya, Perjamuan Paskah terlaksana pada malam hari, di mana telah memasuki hari Paskah, hari Jumat.

Setelah Perjamuan, Tuhan Yesus berdoa di Taman Getsemani, kemudian Ia ditangkap (Mat 26:36-56). Lalu Yesus dibawa ke hadapan Mahkamah Agama. Di sinilah penderitaan Yesus dimulai. Ia dihakimi, dianiaya, diolok-olok, dsbnya. Pukul sembilan Yesus disalibkan (Mrk 15:25).

Hari itu, masih di hari Jumat, hari Paskah dan pada jam 12 siang setelah Tuhan Yesus tergantung di atas Kayu Salib, kegelapan pun terjadi hingga jam tiga Yesus mati diatas Kayu Salib, inilah hari pertama. Pada petang, sebelum memasuki hari Sabat, hari Sabtu, Yesus dikuburkan (Mrk 15:42).

Hari Sabat dimulai pada jam enam petang, itulah hari kedua. Pada hari Sabat, hari peristirahatan (Luk 23:56b), Yesus telah dikuburkan. Pada hari ketiga Yesus sudah bangkit (Mat 28:1).

Jadi, dibangkitkan pada hari ketiga dan bangkit sesudah tiga hari adalah sama artinya (Mat 27:62, 28:1); menunjuk kepada Tuhan Yesus bangkit pada hari pertama. Namun, yang terpenting Tuhan Yesus sudah mati dan bangkit, kasihNya memerdekakan kita.


Ingatlah, bahwa Kristus sudah bangkit dan kebangkitan-Nya tidak hanya mengalahkan maut, tetapi juga membawa kita untuk menikmati janji-janji-Nya dalam kehidupan kekal yang sudah disediakan-Nya bagi orang yang bertahan hingga akhir hidup mereka.

BangkitNya Tuhan Yesus pada hari ketiga atau sesudah hari ketiga, tidaklah perlu dipersoalkan sebab hal itu memiliki arti yang sama menurut konsep Yahudi.




Julian Tamaka/FokusHidup.com/Kristianitas.com

Tentang Penunggang Kuda Putih dalam Kitab Wahyu


7 HAL TENTANG SOSOK PENUNGGANG KUDA PUTIH DALAM KITAB WAHYU YANG PERLU ANDA KETAHUI

BLOGGERNES - Kitab Wahyu berisi tentang penglihatan Yohanes yang akan terjadi pada masa-masa yang akan datang hingga kerajaan seribu tahun, bahkan sampai kepada LB3 (langit baru bumi baru). Di antara penjelasan mengenai kesudahan zaman hingga kekekalan, diselipkan kisah dahsyat akan kedatangan-Nya. Seperti apa gambaran kedatangan-Nya itu? Artikel tentang sosok penunggang kuda putih ini, dibuat dalam upaya menggambarkan kedatangan Kristus kedua kali yang begitu dahsyat.

Kitab Wahyu ini mengingatkan kepada kita akan kedahsyatan dan kemahakuasaan Tuhan pada kesudahan zaman, sekaligus rencana-Nya yang indah, mahkota yang disediakan bagi mereka yang bisa mengakhiri pertandingan iman dengan baik, dan memiliki tempat tinggal di Sorga yang kekal.


Sebagaimana Tuhan Yesus pernah mengatakan bahwa Ia akan kembali ke tempat-Nya yang semula yakni takhta Allah yang Kudus dan menyediakan tempat bagi orang percaya (Yoh 14:1-3). Maka kita akan mendapat tempat di kehidupan kekal.


Setiap orang percaya pasti menanti-nantikan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali dan merindukan Kristus datang sebagai Hakim dan Raja.


Kedatangan Kristus kedua kali ini, berbeda dengan peristiwa kedatangan Kristus pertama kali ke dalam dunia. Jika kedatangan-Nya ke dalam dunia menjadi manusia, maka kedatangan yang kedua kali, Kristus datang sebagai Raja yang akan memerintah bangsa-bangsa.


Namun yang menjadi pertanyaan, siapakah sosok penunggang kuda putih dalam Wahyu 6:2 dan 19:11-16? Atau, apakah penunggang kuda putih dalam Wahyu 6:2 dan 19:11-16 adalah penunggang yang sama? Seperti apakah kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali itu? Simak penjelasan di bawah ini.


1. Gambaran Sosok Penunggang Kuda Putih dalam Wahyu 19:11-16

Khusus di dalam nats ini, Yohanes menjelaskan mengenai penunggang kuda putih. Di sini Yohanes melihat sorga terbuka dan munculah kuda putih dan penunggang-Nya, “Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya ….” (ay. 11).

Gambaran dari sosok sang penunggang kuda putih ialah:
  • Yang Setia dan yang Benar.
  • Menghakimi dan berperang dengan adil
  • MataNya bagaikan nyala api
  • Kepala-Nya banyak mahkota
  • Memakai jubah yang telah dicelup dalam darah
  • NamaNya Firman Allah
  • Ia memiliki pasukan bala tentara Sorga yang mengikuti-Nya
  • Dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam
  • Menggembalakan dengan gada besi
  • Pada jubah dan pahaNya tertulis Raja segala raja

2. Perbedaan Penunggang Kuda Putih dalam Wahyu 6:2 dan 19:11-16

Sebelum menjelaskan tentang kedahsyatan Tuhan Yesus sebagai penunggang kuda putih, terlebih dahulu kita harus mengetahui perbandingannya dengan penunggang kuda putih dalam Wahyu 6:2. Hal ini perlu diketahui sebab ada banyak orang salah tafsir tentang siapa penunggang kuda putih di dalam dalam Wahyu 6:2 ini.

Perbedaannya:

Wahyu 6:2

  • Penunggang sebuah panah
  • Dikaruniakan sebuah mahkota
  • Maju sebagai pemenang
  • Untuk merebut kemenangan

Wahyu 19:11-16

  • Ia disebut Setia dan Benar (ay. 11)
  • Ia Memiliki banyak mahkota (ay. 12)
  • Ia menghakimi dan berperang dengan adil (ay. 11),tentu sudah meraih kemenangan.
  • Ia adalah Firman Allah (ay. 13)
  • Raja yang berkuasa, membinasakan, dan menggembalakan dengan gada besi, dan memerintah (ay. 14-16)

Selain itu, jika melihat konteks nats ini, bahwa Wahyu 6:2 merupakan meterai pertama yang dibuka oleh Anak Domba yang adalah Tuhan Yesus sendiri. Yang menjadi pertimbangan, apakah Tuhan Yesus yang membuka meterai, kemudian langsung menunggang kuda putih, dan balik lagi membuka meterai selanjutnya?


 

3. Gambaran Kedua Sosok Penunggang Kuda Putih

Penunggang kuda putih dalam Wahyu 19:11-16, digambarkan sebagai yang Setia dan yang Benar, mata-Nya bagaikan nyala api, kepala-Nya banyak mahkota, memakai jubah yang telah dicelup dalam darah, nama-Nya Firman Allah, memiliki pasukan bala tentara Sorga, dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam, menggembalakan dengan gada besi, dan pada jubah dan paha-Nya tertulis Raja segala raja.


Sosok penunggang kuda putih yang begitu mengagumkan dan luar biasa ini, penunggangnya tidak lain adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Sebab Yesus digambarkan sebagai Sang Pribadi yang setia dan benar, Sang Hakim dan panglima perang yang berperang dengan adil, Sang Raja yang dahsyat, Sang Penguasa atau Tuhan yang adalah Allah yang hidup.


Di dalam Wahyu 19:11-16, Yesus adalah Sang Penunggang kuda putih, sedangkan di dalam Wahyu 6:2 ada yang menafsirkan bahwa itu adalah Tuhan Yesus sebagai penunggangnya, namun bila diperhatikan akan terlihat perbedaan yang jelas.


Pertama, di dalam Wahyu 6:2, sang penunggang membawa panah, sedangkan Yesus disebut memakai pedang tajam yang keluar dari mulut-Nya.


Kedua, penunggang kuda putih itu dikaruniakan sebuah mahkota, sedangkan Yesus disebut memiliki banyak mahkota di kepala-Nya.


Ketiga, penunggang kuda putih itu maju sebagai pemenang untuk merebut kemenangan, sedangkan Yesus tidak lagi merebut kemenangan sebab kemenangan sudah ada di tangan-Nya. Ia datang untuk menghakimi dan memerintah sebagai Raja Kekal.


Keempat, meterai itu dibuka oleh Sang Anak Domba yang adalah Tuhan Yesus sendiri, maka tidak mungkin Tuhan Yesus yang membuka meterai pertama itu, lantas langsung menunggang kuda putih dan balik lagi membuka meterai kedua.

Penjelasan yang tepat di sini, bahwa Tuhan Yesus bukan penunggang kuda putih dalam Wahyu 6:2, melainkan Ia adalah penunggang kuda putih dalam Wahyu 19:11-16.


4. Sosok Penunggang Kuda Putih dalam Wahyu 6:2


Jika kita melihat dengan seksama berdasarkan penafsiran futuris bahwa Wahyu 6 dan seterusnya, tentu berbicara tentang peristiwa yang akan terjadi pada akhir zaman yang diawali dengan Anak Domba membuka meterai.



Ada dua pandangan yang berbeda mengenai sosok penunggang kuda putih sesuai dengan penafsiran masing-masing, yakni ada yang mengatakan antrikris dan ada yang mengatakan sebagai gelombang perkembangan gereja Tuhan.




Pandangan pertama mengenai sosok penunggang kuda putih pada Wahyu 6:2 tersebut mengatakan bahwa sosok ini merupakan Antikris atau anti Kristus. Alasannya:



  • Kuda putih sebagai yang pertama dari keempat kuda harus dilihat sebagai bagian dari kuasa perang, kelaparan, dan kematian.
  • Kuda ini dipakai untuk berperang dan busur panah adalah senjata untuk membunuh.
  • Penunggang kuda putih mempunyai senjata busur panah bukan pedang seperti digambarkan dalam Wahyu 19:15.
  • Kuda putih berpakaian biasa tidak memakai jubah putih seperti dalam Wahyu 1:13.
  • Dikaruniakan sebuah mahkota sedang Kristus memiliki banyak mahkota.
  • Tampil sebagai pemenang untuk merebut kemenangan, sedangkan Kristus sudah menang dan Ia datang kedua kali untuk menghakimi dan memerintah sebagai Raja kekal.

Kaitannya dengan antikris sebab masa kesudahan zaman diawali dengan kekuasaan antikris akan dunia ini. Masa ini adalah masa antikris memerintah. Dalam Matius 24:15, Antikris tampil di bait Allah. Namun roh antikris juga muncul sejak zaman PB. Hal ini termasuk guru-guru palsu, nabi palsu, Mesias palsu, dan Kristus palsu.


Pandangan ini juga beranggapan bahwa munculnya kuda putih dan ketiga kuda lainnya adalah rentetetan peristiwa kesudahan zaman yang dimulai dari munculnya kuda putih sebagai antikris yang memerintah atau roh antikris yang menyesatkan.


Selain itu, pandangan futuris juga beranggapan, kesudahan ini atau muncul keempat penunggang kuda yang dimulai dalam Wahyu 6, belumlah terjadi. Ini masa anugerah atau masa kasih karunia yang diberikan kepada gereja Tuhan. Wahyu 1 – 4, yakni ketujuh Jemaat, dianggap merupakan keberadaan gereja Tuhan di zaman akhir. Orang percaya saat ini, hidup di zaman akhir dan memasuki akhir zaman yang dimulai pada Wahyu 6, di mana kesudahan alam semesta terjadi.


Nah, kesudahan zaman terjadi yang dimulai pada Wahyu 6, yang diawali munculnya antikris sebagai penunggang kuda putih dalam Wahyu 6:2 ini, kemudian diikuti (tidak bersamaan) kuda merah, kuda hitam, dan kuda hijau kuning (Why. 6:3-8).


Pandangan kedua mengenai sosok penunggang kuda putih pada Wahyu 6:2 tersebut mengatakan bahwa sosok ini merupakan perkembangan masa Gereja Tuhan. Alasannya:


  • Peristiwa akhir zaman telah dimulai pada kedatangan Kristus pertama kali
  • Kuda putih menggambarkan munculnya kekristenan yang mewarnai dunia
  • Kuda putih meraih kemenangan menggambar kekristenan yang mendunia
  • Kemenangan di sini Kekristenan mengubah dunia pada perdamaian dan kebangunan rohani
  • Kuda putih adalah masa di mana gereja meraih kemenangan

Kuda putih dianggap sebagai gelombang kekristenan yang membawa kedamaian bagi dunia dan masa kejayaan gereja di bumi ini, di mana Injil disebarluaskan dan merebut kemenangan yang dahsyat, melalui gambaran kebangunan rohani terjadi di berbagai belahan dunia. Juga dibarengi pertumbuhan populasi kekristenan di dunia.

Namun kemudian selain kuda putih diikuti kedatangan kuda yang lain, yang memasuki fase penghancuran dunia atau akhir zaman.


Tidak ada yang tahu persis siapa sosok penunggang kuda putih di dalam Wahyu 6:2 ini, bisa juga lebih mungkin ini adalah perkembangan kekristenan yang mendunia. Tetapi tentu penunggang di sini bukan Tuhan Yesus, sebab kedatangan-Nya kedua kali digambarkan dalam Wahyu 19:11-16.


Rentetan peristiwa akhir zaman mulai terjadi, menunjukkan bahwa kesudahan mulai semakin dekat dan kita pun harus berjaga-jaga.


5. Sosok Penunggang Kuda Putih dalam Wahyu 19:11-16


Penungang kuda putih di sini digambarkan sosok yang hebat, dahsyat, dan luar biasa sebagaimana digambarkan di atas. Melihat dari ciri-ciri atau gambaran sosok-Nya, maka jelas bahwa penunggang kuda putih di sini ialah Tuhan Yesus Kristus yang datang kedua kalinya dengan segala kedahsyatan, kemahakuasaan, keaguangan, ketegasan, kemurkaan, keadilan, kejayaan, dan kekekalan-Nya.


Pribadi Yesus digambarkan di sini sebagai:
  • Sang Pribadi yang setia dan benar. (ay. 11)
  • Sang Hakim dan panglima perang yang berperang dengan adil. (ay. 11,14)
  • Sang Raja yang dahsyat (ay 12, 15-16)
  • Sang Penguasa atau Tuhan yang adalah Allah yang hidup (ay. 13, 15)

6. Perbandingan Kedatangan Kristus Pertama dan Kedua Kali

Timotius Subekti dalam bukunya Kitab Wahyu Rahasia Akhir Zaman 3, menggambarkan perbandingan Kedatangan Kristus pertama kali dan kedua kali:

Kedatangan Kristus pertama kali

  • Langit terbuka (Mat:13)
  • Datang menunggangi seekor keledai (Za 9:9, Luk. 10:34)
  • Diberi mahkota duri (Mat 27:29)
  • Dengan tubuh yang berlumuran darah (Yoh 19:34).

Kedatangan Kristus Kedua Kali

  • Langit terbuka (Why. 19:11)
  • Datang menunggangi seekor kuda putih (Why 19:11)
  • Dengan banyak mahkota di kepalaNya
  • Dengan pakaian yang berlumuran darah.

7. Perbandingan empat Kedudukan Tuhan Yesus

Perbandingan empat kedudukan Tuhan Yesus pada masa kedatangannya pertama kali dan kedatangannya kedua kali, sebagai berikut.

Kedatangan Kristus pertama kali:

  • Sebagai Hamba: Dia ditolak sebagai nabi = hamba Allah, yang memberitakan kebenaran (Yoh. 8:40,45). Mereka berkata: “dari Galilea tidak terbit seorang nabipun!” (Yoh. 7:52)
  • Sebagai Anak Manusia: Dia dianiayakan! Sengsara sebagai manusia. PengakuanNya sebagaiAllah yang menyebabkan Yesus harus menerima mahkota duri!
  • Sebagai Allah: Dia disalibkan sehingga mengeluarkan darah (Mat. 26:63-6; 27:43), sebab pernyataanNya sebagai Allah!
  • Sebagai Raja: Ia dipermainkan oleh tentara-tentara Roma dan penghulu-penghulu Yahudi (Mat 27:27-31).

Kedatangan Kristus Kedua Kali:

  • Sebagai Hamba: Dia diberi wewenang untuk menghukum, sebab Dialah yang tahu siapa yang mau menerimaNya dan yang menolakNya (Why. 19:11). Hamba itu akan menjadi hakim yang besar.
  • Sebagai Anak Manusia: Dia menunjukkan diri sebagai pemenang atas maut dan karena itu Dia datang dengan memakai mahkota banyak! (Why. 19:12)
  • Sebagai Firman = Allah – Dia akan datang untuk membinasakan mereka yang melawan Firman, sehingga darah mengalir (19:13)
  • Sebagai Raja: Ia akan datang dengan kemurkaan yang besar atas mereka yang mempermainkanNya (19:15-16).


Kesimpulan

Alasan dari pendapat penunggang kuda putih dalam Wahyu 6:2 ialah antikris (anti Kristus) atau nabi palsu, sebab kuda putih sebagai yang pertama dari ketujuh meterai yang dibuka oleh Tuhan Yesus, merupakan bagian dari penyesatan, kuasa perang, kelaparan, dan kematian.

Jadi penunggang kuda putih tersebut datang untuk meraih kemenangan dengan menyesatkan bangsa-bangsa melalui pemerintahannya sebagai Antikris. Meterai pertama dilihat sebagai tampilnya Antikris sebagai penguasa dunia di mana dalam Matius 24:15, Antikris tampil di bait Allah yang sudah dibangun, yakni bait Allah ketiga.


Namun penunggang kuda putih bisa ditafsirkan sebagai masa gereja berkembang dan meraih kemenangan, di mana Injil disebarluaskan dan gereja terus bertumbuh hingga mendunia. Penafsiran ini lebih mendekati sebab tak bisa dipungkiri sejarah dunia telah mengukir jelas mengenai perkembangan gereja di dunia.


Bila penunggang kuda putih dalam Wahyu 6:2 adalah mengenai perkembangan gereja secara global, penunggang kuda putih dalam 19:11-16 mengenai kedatangan Kristus kedua kali. Tuhan Yesuslah yang datang kedua kali dengan menyatakan dir Sebagai Tuhan, Hakim, dan Raja.


Kedatangan Kristus Kedua Kali sangat jelas yakni langit terbuka dan Ia menunggangi seekor kuda putih, dengan mata-Nya bagaikan nyala api dan banyak mahkota di kepalaNya. Ia datang dengan kedahsyatan untuk menghakimi dan memerintah sebagai Raja yang kekal.



Kristianitas.com

Kehebatan Kristus dalam KedatanganNya Kedua Kali



3 Kehabatan Kristus dalam kedatangan-Nya yang kedua kali.

Sebelumnya telah dibahas sosok penunggang kuda putih dalam wahyu 19:11-16, merupakan kedatangan Kristus yang kedua kali untuk menghakimi dan memerintah dengan penuh kemuliaan dan ketegasan. Artikel ini membahas tentang kehebatan Kristus dalam kedatangan-Nya kedua kali.

BLOGGERNES - Yang menjadi pertanyaan adalah apa sajakah kehebatan dari sosok penunggang kuda putih yang adalah Kristus itu sendiri? Atau, apa sajakah yang akan dilakukan Tuhan Yesus pada kedatangan-Nya yang kedua kali?

Jika kita membaca Wahyu 19:11-16, paling tidak kita menemukan hal mengesankan mengenai 3 kehebatan Kristus dalam Kedatangan-Nya Kedua Kali Sang Penunggang kuda putih, yakni Ia menyatakan diri sebagai Tuhan, Hakim, dan Raja yang kekal.

1. Kehebatan Kristus dalam Kedatangan-Nya ialah Menyatakan Diri-Nya Sebagai Tuhan (Ay 11-13)


Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: ‘Yang Setia dan Yang Benar’, Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorang pun, kecuali Ia sendiri.

Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: “Firman Allah”
(ay. 11-13)

Yang perlu kita ketahui terlebih dahulu mengenai kehebatan Kristus Sang Penunggang kuda putih ialah Ia datang sebagai Tuhan yang mulia. Ia adalah Tuhan yang mulia dan kehebatannya dahsyat dan sangat luar biasa.

Beberapa sifat dan gambaran kehebatan Kristus yang adalah Tuhan yang mulia:

- Ia Tuhan yang memiliki sifat ilahi yaitu yang setia dan benar.
Sifat Allah yang sejati adalah setia dan benar (Yun: πιστὸς καὶ ἀληθινός, pistos kai alethinos), dimiliki oleh Sang Penunggang tersebut. BIS menerjemahkan, “Penunggang-Nya bernama Sang Setia dan Sang Benar.”

Hal ini menunjuk kepada pribadi penunggang tersebut yang adalah Tuhan yang mulia, sebab ia disebut “Yang Setia dan Yang Benar”. Beberapa ayat Alkitab menyatakan bahwa Tuhan itu setia dan benar, yakni di dalam Ulangan 32:4; 1 Korintus 1:9; 1 Tesalonika 5:24; 2 Tesalonika 3:3; 2 Timotius 2:13; 1 Yohanes 1:9; 5:20; Titus 1:2; 12 Timotius 2:13.

- Mata-Nya bagaikan nyala api
Bukti lain bahwa penunggang kuda ini adalah Kristus sebab sama seperti yang digambarkan oleh Yohanes dalam Wahyu 1:14. Peter Wongso mengatakan, “Mata-Nya bagaikan nyala api, yang menunjukkan pemikiran serta motivasi Tuhan di dalam menyelidiki hati manusia.” Dengan kata lain, Ia menyelidiki atau mengetahui hati setiap orang.

- Dikepala-Nya Terdapat Banyak Mahkota
Kristus sang penunggang kuda putih memiliki banyak mahkota di kepala-Nya. Peter wongso menjelaskan “Mahkota adalah tanda kemenangan, banyak mahkota menyatakan bahwa Ia menang atas segala pencobaan.”

Sedangkan menurut Henky B. takdare mengatakan, “Kenapa bermahkota banyak? Karena mahkota ini Ia karuniakan kepada orang yang menang sampai pada ajalnya (2 Tim 4:6-8; Mat 24:13; Yak 1:12).”

Apapun alasan mahkota-Nya yang banyak, yang pasti Ia Sang Penunggang Kuda memiliki banyak mahkota yang menggambarkan keberadaanNya sebagai Tuhan yang penuh dengan kemuliaan dan kedahsyatan. Bahkan nama-Nya tidak diketahui seorang pun, kecuali Dia.

- Memakai Jubah yang Telah Dicelup dalam Darah
Kehebatan Sang Penunggang kuda putih lainnya, Ia telah meraih kemenangan sebagai Tuhan Allah yang mulia dan dahsyat. Kata “Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah”, dalam terjemahan BIS, “Jubah yang dipakai-Nya telah dicelup dalam darah.”

Darah di sini bukan darah dari salib mengenai pengorbananNya atas manusia, mlainkan darah para musuh-Nya (Yes 63:1-6; Why. 14:20). Noda merah di jubah-Nya bukan darah-Nya sendiri tetapi darah para musuh-Nya. JubahNya yang telah dicelup darah, menggambarkan peperangan yang diakhiri dengan kemenangan besar yang diperoleh dari perang yang adil.

- Dialah Firman Allah

Disebutkan Yohanes bahwa nama-Nya ialah: “Firman Allah.” Menunjuk kepada tulisannya sendiri dalam Yohanes 1:1,14, bahwa Firman itu adalah Allah dan Firman itu telah menjadi manusia. Jelas di sini Sang Penunggang itu adalah Firman Allah atau Allah sendiri. Dialah Tuhan Yesus Kristus Sang Penguasa, Sang Pencipta, dan Sang Pemenang. Dialah Tuhan yang mulia.

Berdasarkan gambaran di atas maka kita seharusnya meningkatkan pengharapan dan iman kita bahwa Kristus yang kita sembah adalah Tuhan yang mulia, Mahakuasa, dan kemenangan ada di dalam tangan-Nya. Karena itu jangan kita takut dan kuatir tetapi teruslah berharap dan berpegang pada Firman atau janji-Nya.

 

2. Kehebatan Kristus dalam Kedatangan-Nya Ialah Menyatakan Diri-Nya Sebagai Hakim (Ay 11,14-15a)

Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: “Yang Setia dan Yang Benar”, Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa.
 

Hal kedua mengenai kehebatan sang penunggang kuda putih ialah Ia datang bukan hanya sebagai Tuhan tetapi juga datang sebagai hakim. Kehebatan Kristus yang adalah sosok penunggang kuda putih dalam nats ini adalah Ia memiliki otoritas dan kuasa untuk menghakimi dan menghukum serta berperang dengan adil.

Artinya Ia adil dalam penghakiman-Nya dan tidak ada sedikit pun sifat kecurangan-Nya dalam meraih kemenangan di medan peperangan. BIS menerjemahkan, “Ia adil dalam memutuskan hukuman dan dalam peperangan yang dilakukan-Nya.” Jelas Kristus adalah hakim yang adil karena sifatnya yang adil.

Ia layak menghakimi, dan tidak berlaku curang dalam peperangan melawan Iblis dan pasukannya. Bahkan, Ia menang atas peperangan itu (Why 19:17-21). Menang atas perang Harmageddon! Di medan peperangan Kristus sebagai hakim dan panglima perang memimpin pasukan yang mengikuti Dia dan memakai jubah kain lenan halus dan Ia pun menang.

– Pasukan yang Di Sorga mengikuti DiaKata “Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda putih,” Bis menerjemahkan, “Angkatan perang surga mengikuti Dia dengan menunggang kuda-kuda putih.” Di sini Tuhan Yesus sebagai pemimpin atau panglima yang memimpin bala tentara-Nya. Tentara Allah ini mengikuti dia. Siapakah bala tentara sorga itu?

William Hendriksen berpendapat bahwa “Pada kedatangan-Nya yang kedua, bala tentara sorga, yaitu para malaikat kudus, menyertai Dia (Mat. 25:31). Karena mereka adalah para malaikat kudus, mereka berpakaian lenan halus yang putih bersih (Wahyu 15:6).”

Namun, di dalam Wahyu 19:8 ternyata para martir atau orang percaya dikaruniakan pakaian lenan halus, maka bisa dikatakan bahwa pasukan Kristus itu adalah orang percaya.Untuk hal ini, kita dapat sependapat dengan Simon J. Kistemar yang mengatakan bahwa, “Pasukan sorgawi ini terdiri dari para malaikat dan orang-orang kudus, sebab keduanya mengiringi Tuhan Yesus pada kedatangan-Nya yang kedua, dan keduanya hadir pada waktu penghakiman (Mat. 24:31; Mrk. 13:27; Luk. 9:26; 1 Tes. 4:13-18; 2 Tes 1:7-10).”
 

– Keluar sebilah pedang dari Mulut-Nya
William Hendriksen mengatakan “Pedang dari mulutNya bukan kisah Injil yang memberi penghiburan. Pedang ini melambangkan kebinasaan, seperti yang jelas dinyatakan oleh seluruh konteksnya.”

Peter Wongso juga menyebutkan, “Dari dalam mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa, atau dengan firman-Nya Ia akan menghakimi orang-orang berdosa (bnd. Yoh 12:47-50).”

Senada dengan itu, Simon J. Kistemar mengatakan, “Firman yang keluar dari Tuhan Yesus ini menjatuhkan hukuman Allah atas orang fasik (Why. 19:21; 2:12,16; Yes. 11:4; 49:2). Jadi, Tuhan Yesus menghancurkan para musuh-Nya seorang diri.”

Inilah kehebatan Tuhan Yesus, oleh pedang firman-Nya segala musuh dapat dikalahkan oleh-Nya Sang Hakim yang adil. Ia memukul segala bangsa dengan sebilah pedang tajam. Kristus sebagai Hakim yang adil, Ia datang untuk melaksanakan putusan hukuman Allah yang Mahakuasa (Mat 25:31; Yoj 5:22; Kis 17:31).

– Sikap kita sebagai orang percaya

Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa Bapa telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, “Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia.” (Yoh 5:27). Penghakiman Kristus itu adil (Yoh. 5:30).

Gambaran Yesus sebagai hakim yang benar dan adil ini, seharusnya meningkatkan kepercayaan kita kepada-Nya bahwa Ia adalah Tuhan yang berkuasa terhadap kehidupan dan kematian seseorang, dan melalui pengadilan-Nya yang adil, maka orang yang tidak benar atau berperilaku jahat akan mengalami kebinasaan atau penghukuman kekal.

Bagaimanakah dengan orang percaya? Akankah mengalami penghakiman? Kristus akan menghakimi orang-orang percaya berdasarkan perbuatan mereka dan harus mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan (Rm 14:10; 1 Kor. 3:11-15; 4:5; 2 Kor. 5:10).

Maka jelas terlihat apakah seseorang telah membangun imannya dengan memakai kayu, jerami, tumput kering, ataukah emas, perak, dan batu permata (1 Kor. 3:12). Orang yang tahan uji akan mendapat upah, namun jika tidak atau pekerjaannya terbakar, ia akan mengalami kerugian tetapi ia akan tetap diselamatkan seperti dari dalam api (1 Kor. 3:15).

Mahkota yang diperoleh apabila tahan uji ialah mahkota yang abadi (1 Kor. 9:25), mahkota kebenaran (2Tim. 4:8), mahkota kehidupan (Yak. 1:12; Why. 2:10), mahkota kemuliaan (1Pet. 5:4), dan mahkota sukacita atau kemegahan (1Tes. 2:19; band. Flp. 4:1).

Karena itu , marilah kita memerhatikan kehidupan rohani kita dengan seksama. Lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk Tuhan dan percaya sungguh kepada-Nya sehingga kita dapat memastikan diri kita bahwa selain kita memperoleh keselamatan, juga kita memperoleh mahkota yang Tuhan sediakan bagi yang tahan uji.

Ingatlah, Kristus sebagai hakim yang adil yang akan memberikan mahkota kepada orang yang setia namun akan membinasakan orang yang mengeraskan hati atau menolak-Nya. Dialah Tuhan yang terhebat dan juga Hakim yang adil.


3. Kehebatan Kristus dalam Kedatangan-Nya Ialah Menyatakan Diri-Nya Sebagai Raja Kekal (Ay 15b-16)

Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa. Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: “Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan”
(ay. 15b-16).

Kehebatan Kristus Sang Penunggang kuda putih, bahwa selain Ia Tuhan yang Mulia, Hakim yang adil, Ia juga adalah Raja yang kekal. Ia datang sebagai Raja untuk memerintah umat-Nya. Sebagai Raja yang memerintah sampai selama-lamanya. Kristus adalah Raja-Gembala yang menggembalakan dengan gada besi, Raja yang melaksanakan murka Allah, dan Raja segala raja.

– Menggembalakan dengan Gada Besi

Kata gada besi dalam bahasa Yunani ῥάβδῳ σιδηρᾷ (rhabdo sidera) yang juga dapat diartikan dengan tongkat besi. BIS menerjemahkan, “… dan Ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi.” Hal ini menunjuk kepada tindakan yang tegas dan tanpa kompromi. Pemerintahan Kristus di kemudian hari atau pada masa seribu tahun, yakni Ia memerintah dengan gada besi.Dengan kata lain dalam pemerintahan Kristus pada masa seribu tahun damai (Why 20: 6) bukan dengan kekerasan atau semena-mena melainkan Ia memerintah dengan tegas, benar, dan adil.

Simon J Kistemar mengatakan,
“Tuhan memerintah bangsa-bangsa sebagai Raja-Gembala yang dengan tongkat-Nya melindungi umat-Nya dan menghancurkan musuh-Nya.”Hal ini tentu sangat menghibur dan menguatkan iman kita sebagai orang percaya, bahwa dalam pemerintahan Kristus di Kerajaan seribu tahun damai, tidak ada lagi ketidakadilan dan ketidakbenaran yang mungkin pernah kita alami selama hidup di dunia ini.Tidak ada lagi orang atau siapa pun yang bisa memperlakukan kita dengan tidak baik atau memperlakukan kita dengan tidak adil, sebab Kristus memerintah dengan penuh ketegasan dan keadilan. Bahkan kita pun akan memerintah bersama Kristus apabila kita tetap setia melayani Tuhan.

– Melaksanakan Murka Allah
Kata, “Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa,” BIS menerjemahkan, “Ia akan memeras anggur di dalam alat pemeras anggur amarah Allah Yang Mahakuasa.” Di sini Kristus datang membinasakan atau melaksanakan murka Allah dengan terhadap binatang dan pengikut-pengikutnya (Why. 19:17-21).

William Hendriksen mengatakan, “Ia datang untuk ‘memukul kalah segala bangsa,’ dan untuk ‘menggembalakan dengan gada besi’ (Bdk. 2:27; 12:5). Ia menginjak-injak kilangan anggur keganasan murka Allah yang Mahakuasa (Mat 25:21 dst.; Yoh. 5:22; Kis. 17:31). Ia datang untuk melaksanakan putusan hukuman Allah yang mahakuasa (Mat. 25:31 dst.; Yoh 5:22; Kis. 17:31).”

Senada dengan itu, Simon J. Kistemar, mengatakan “Bahasa Yunani di sini cukup tegas; secara harfiah berbunyi: ‘Ia sendiri menginjak-injak pengirikan anggur itu.’ Perhatikan: Yohanes menulis menginjak-injak dalam bentuk present – tense, yang menunjukkan suatu proses. Tuhan menginjak-injak anggur, yaitu bangsa-bangsa di bawah kaki-Nya.”

Sebagai orang percaya, janganlah kerajinan kita semakin kendor, melainkan kita harus semakin semangat melayani Tuhan, sebab Tuhan yang kita sembah adalah Allah yang dahsyat. Sebegitu mudahnya ia dapat menghancurkan musuh-musuh-Nya dan melaksanakan murka Allah.

– Raja Segala raja
Hal yang terakhir yang perlu kita ketahui adalah Kristus adalah Raja di atas segala raja dan tuan di atas segala tuan. Sebagaimana diberitahukan dalam ayat 16 ini, bahwa di jubah-Nya dan di paha-Nya tertulis bahwa Ia “Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan”.

Simon J. Kistemar menjelaskan “Gelar ini telah dipakai sebelumnya meski dengan urutan terbalik (17:14), dan merupakan gelar yang sangat dikenal di masa Perjanjian Lama maupun Baru. Gelar itu memiliki arti yang sejajar dengan nomina superlatif seperti ‘Raja terbesar’ atau ‘Tuan terbesar.’ Tuhan Yesus Kristus adalah pemegang kedaulatan tertinggi yang memerintah dengan kemuliaan, kuasa, dan otoritas.”


Jelaslah bahwa Raja di atas segala raja, mengandung arti Ia-lah yang memiliki kuasa dan otoritas tertinggi yang layak memerintah dan menghukum serta menghancurkan musuh-musuh-Nya. Jadi, makna Raja di atas segala raja adalah Dia sang penguasa tertinggi yang memerintah dengan adil dan benar, juga Tuan di atas tuan yang berarti Ia-lah sang pemilik kehidupan termasuk manusia dan layak membinasakan mereka yang menolak-Nya.


Dengan demikian, kita pun seharusnya meninggikan Dia dan hidup selalu menyenangkan Dia, sebab Kristus adalah Raja kita yang kekal dan sebagai Tuan satu-satunya pemilik dari hidup kita ini yang seharusnya kita persembahkan kepada-Nya.

Janganlah kita takut dan gentar, tetapi tetaplah percaya kepada-Nya yang bisa memberikan kehidupan yang kekal, maka kita pun dapat memerintah bersama-sama dengan-Nya apabila kita mengakhiri pertandingan rohani dengan baik.


Kesimpulan

Marilah kita berjalan dalam kehendak-Nya yang ajaib, sebab Kristus yang kita sembah pada kedatangan-Nya yang kedua kali menunggang kuda putih adalah datang untuk menghakimi, memerintah, dan melaksanakan murka Allah bagi mereka yang menjadi pengikut Iblis atau antikris.

Di satu sisi, kita pun akan memerintah bersama dengan Dia apabila kita tetap setia melayani Tuhan.


Jadilah pemenang rohani, sebab Kristus datang Sebagai Tuhan yang Mulia, Hakim yang Adil, Raja yang kekal. Semua makhluk takluk di hadapan-Nya dan akan dibinasakan oleh-Nya. Ia adalah hakim yang adil, sebab Ia satu-satunya yang menghakimi dunia dengan adil dan tegas. Bahkan Kristus adalah Raja yang kekal.




Karena itu, tetaplah berpengharapan dan tinggal di dalam kasih-Nya. Apapun yang terjadi, jangan jual atau jangan gadaikan imanmu dengan sesuatu yang fana, melainkan marilah kita tetap giat melayani Tuhan.




Kristianitas.com

Bukti Nyata Tuhan Itu Ada

BLOGGERNES - Tuhan itu ada tetapi banyak orang yang berdalih akan keberadaan Tuhan. Mengapa? Sulitkah seseorang membuktikan akan keberadaan Tuhan?

Bacaan Nats: Mazmur 119:81-83; 2 Korintus 3:2-3

Habis jiwaku merindukan keselamatan dari pada-Mu, aku berharap kepada firman-Mu. (ayat 81)

Habis mataku merindukan janji-Mu; aku berkata: "Bilakah Engkau akan menghiburkan aku?" (Ayat 82)

Sebab aku telah menjadi seperti kirbat yang diasapi; namun ketetapan-ketetapan-Mu tidak kulupakan. (ayat 83)

(Mzm 119:81-83)

Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. (ayat 2)
Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami,ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia. (ayat 3)
(2 Korintus 3:2-3)

Membuktikan keberadaan Tuhan kepada orang yang tidak percaya adanya Tuhan memang tidaklah mudah. Pertanyaan klasik yang sering mereka ajukan adalah “Jika Tuhan ada, mengapa ada kejahatan, kelaparan, dan kesengsaraan di dunia ini? Di mana Tuhan ketika terjadi gempa bumi atau bencana lainnya?”

Dan masih banyak lagi sanggahan yang diutarakan yang menjadi teka-teki di hati mereka atau yang menguatkan mereka untuk memiliki pemahaman bahwa Tuhan itu tidak ada. Di tambah lagi dengan berbagai teori yang menyesatkan mengenai penciptaan membuat banyak orang yang tidak percaya adanya Tuhan semakin teguh pandangannya.

Beberapa waktu yang lalu, saya menonton sebuah video yang bagus dan sangat sederhana dalam menjelaskan dan membuktikan keberadaan Tuhan.

Kisah ini menjelaskan secara sederhana dalam membuktikan Tuhan itu ada. Seperti apa kisah yang sederhana namun tepat dalam membuktikan keberadaan Tuhan? Seperti apakah bukti nyata Tuhan itu ada?

Seorang pemangkas rambut tiba-tiba berkata kepada seorang anak Tuhan yang rambutnya baru saja dipangkas olehnya.

“Saya tidak percaya jika Tuhan itu ada,” ujar pemangkas rambut.

“Mengapa kau berkata begitu kawan?” tanya si anak Tuhan.


Lantas pemangkas rambut itu menjawab, “Jika Tuhan memang ada katakan padaku, mengapa begitu banyak orang tersakiti, begitu banyak anak terlantar, dan orang-orang sakit? Tuhan tidak ada kawan, karena jika Tuhan ada, tidak akan ada penderitaan, tidak akan ada kesusahan di bumi ini. Saya tidak mengerti bagaimana bisa kalau ada Tuhan, Dia biarkan semua ini terjadi.”

Karena tak bisa menjawab, anak Tuhan itu berpamitan keluar dari ruangan tempat pemangkas rambut tersebut, sembari berpikir jawaban apa yang hendak disampaikannya untuk membuktikan keberadaan Tuhan.

Diluar ia melihat seorang pria berambut panjang yang santai bersandar di tembok. Ia pun menghampiri pemuda itu dan memintanya mengikuti dia. Ia lantas masuk menemui tukang cukur bersama pemuda itu.

“Apa kau tahu, tidak ada tukang pangkas rambut,” ujarnya kepada pemangkas rambut itu.

“Apa? Dan saya ini kamu panggil apa?” tanya tukang pangkas bernada ketus.

Anak Tuhan itu lantas melanjutkan, “Tukang pangkas rambut tidak ada, karena jika mereka ada, tidak akan ada lagi rambut panjang seperti dia.”

“Tukang pangkas rambut itu ada, masalahnya ia tidak datang kepadaku!” ujar pemangkas rambut.

“Tepat. Itulah maksudnya! Tuhan itu ada, masalahnya mereka tidak mau datang menemuiNya. Itulah sebabnya kawanku, begitu banyak kesusahan dan penderitaan di dunia ini,” jawab anak Tuhan itu.



Penderitaan di dalam dunia ini memang ada dan menimpa orang yang tidak percaya maupun orang benar. Sebab dunia tempat kita tinggal ini sudah dicemari oleh dosa.

Bumi ini bukan lagi bumi yang sempurna sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa. Namun Tuhan mempersiapkan langit dan bumi baru bagi orang yang percaya kepadaNya.

Daud adalah raja yang disertai Tuhan, tetapi dalam perjalanan hidupnya, ia juga mengalami berbagai persoalan hidup.

Hidupnya seperti berada di ujung tombak. Ia memiliki banyak musuh, bahaya selalu mengancam, bahkan tidak jarang ia mengalami olok-olokan dan hinaan, baik dari pihak musuh, maupun warga yang tidak suka dengannya.

Ia mengumpamakan dirinya seperti “kirbat yang diasapi.” Ia seperti kirbat yang tergantung berdebu dan hitam karena asap. Artinya, tidak luput dari pencobaan, penderitaan, atau tekanan hidup yang diibaratkan sebagai debu dan asap. Tetapi Daud berkomitmen melakukan kehendak Tuhan.

Apapun yang terjadi, tetaplah ikut Tuhan dan jadilah saksiNya. Sebenarnya kita tidak hanya mampu membuktikan Tuhan itu ada, juga bisa membuat orang lain merasakan hadirnya Tuhan dalam hidupnya dan merasakan sukacita dariNya.

Bukti nyata Tuhan itu ada, bila kita hidup di dalam kebenaranNya.”

Karena itu, janganlah kita hanya sekadar pintar berargumen, tetapi jadilah pelaku Firman sehingga dunia melihat Kristus di dalam kita.


DOA

Bapa, ku menyadari bahwa tugasku dunia ini adalah menjadi saksiMu, ajarlah aku ya Tuhan sehingga menjadi saksi nyata bagi kerajaanMu. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.


Kristianitas.com

Mengasihi dengan Kasih Kristus


BLOGGERNES – “Mengapa kita harus mengasihi? Seperti apakah mengasihi dengan kasih Kristus?

Bacaan ayat: Efesus 5:2
dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Rasul Paulus menasihati mereka untuk hidup di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus mengasihi mereka dengan menyerahkan diri-Nya sebagai penebus dosa manusia. Hal ini juga merupakan nasihat kepada kita.

Allah sudah memberikan teladan kepada kita dengan pengorbanan Yesus, Anak yang dikasihi-Nya sebagai perdamaian di antara kita dengan Allah dan mengangkat kita menjadi anak-anak Allah. Yesus sudah menjadi persembahan yang harum bagi Allah, demikian juga kita sekarang. Itulah manifestasi kasih yang sempurna.

Dan Allah menghendaki kita untuk memanifestasikan kasih dalam hidup kita melalui wujud perbuatan iman atau buah Roh. Kita seharusnya menghasilkan buah Roh.

Kehidupan kekristenan tak dapat dipisahkan dari kasih, artinya setiap orang yang percaya kepada Kristus harus memiliki kasih dalam hidupnya.

Kasih seperti apa? Bukan kasih yang hanya digembar-gemborkan di atas mimbar atau ditulis dalam slogan dengan huruf besar dan tinta berwarna supaya menarik banyak orang, tetapi kasih yang diwujudkan dalam tindakan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa?

… sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1 Kor. 4:7-8).

“Oleh karena itu, setiap orang Kristen diperintahkan untuk hidup di dalam kasih. Jadi, mengasihi adalah gaya hidup orang Kristen. Tuhan Yesus berkata, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:35).”

Identitas orang percaya bukan hanya terlihat dari pengakuannya saja di muka umum bahwa dia adalah orang Kristen, melainkan juga dengan mendemonstrasikan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Orang percaya harus hidup saling mengasihi dengan kasih Kristus.

Hidup dalam kasih berarti harus membuang semua sifat “manusia lama” kita yang cenderung egois, mementingkan diri sendiri dan tidak punya kepedulian terhadap orang lain. Bukan hanya mengasihi orang yang mengasihi kita, tetapi juga mampu mengasihi orang yang telah menyakiti dan membenci kita.

Bila kita tetap memperlihatkan kasih kita kepada Kristus dengan menanggalkan manusia lama yang cenderung egois dan mementingkan diri sendiri, maka kita sedang mengalahkan dunia dengan segala kemewahan dan kegemerlapannya yang sewaktu-waktu bisa memperdaya kita dengan kesombongan dan keangkuhan.

Yang terutama dari itu, kita seharusnya mau belajar meneladani kasih Yesus.


Dalam kasih-Nya, Yesus memberikan teladan yang luar biasa. Di mana kasih Yesus adalah kasih yang tidak memandang muka, tidak memandang waktu, tanpa pamrih dan tanpa syarat (Beberapa renungan berikutnya akan membahas tentang kasih Yesus ini, yakni tanpa pandang muka, hingga tanpa syarat).

Itulah mengasihi yang dikehendaki oleh Kristus Yesus di dalam kita.

Milikilah kasih Kristus sehingga dunia melihat Kristus di dalam kita dan kita pun menjadi berkat bagi sekitar kita.

DOA

Bapa, ajarku untuk dapat mengasihi dengan kasih-Mu, dan biarlah aku terus menjadi berkat bagi banyak orang. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

Kristianitas.com

LABURA BERDUKA: MENUNGGU PEMDA BEKERJA WARGA JADI KORBAN




Jalan yang berlubang, Pemda Labuhanbatu Utara seakan tutup mata dan tidak mau tahu apa yang terjadi terhadap warga dan daerahnya.

Telah sering terjadi dan banyak pengendara kereta (sepeda motor) yang menjadi korban masuk ke dalam lubang dan terjatuh sejak jalan di perempatan jalan Serma Maulana, Aek Kanopan - LABURA berlubang.

Lubang jalan tersebut tepat di perempatan sebelum rel kereta api perlintasan kereta api yang tidak jauh dari stasiun Kereta Api Membang Muda, sebelah Barat arah jalan ke jalan Wonosari/Pulo Tarutung, sebelah Selatan jalan ke arah Parluasan, sebelah Timur jalan Serma Maulana, sebelah Utara Sejahtera.





Korban paling parah adalah orang tua yang terjatuh pada lubang yang berukuran sekitar 2 meter tersebut hari ini, setelah melintasi rel kereta api. Tepatnya sekitar pukul 10.30 WIB, atau tadi pagi saat orang tua yang berusia sekitar 60 tahun tersebut hendak berkunjung kerumah kerabatnya di wilayah jalan Serma Maulana (warga setempat menyebut dengan sebutan Kampung Kristen).

Orang yang sudah tua tersebut mengalami pendarahan di kepala akibat benturan dengan jalan dan batuan sekitar lubang tersebut serta luka-luka di lengan dan kakinya.





Beruntung, tepat dekat lubang dan terjatuhnya orang tua tersebut terdapat sebuah klinik praktik Bidan dan orang tua yang bernama Bapak Malau (Op. Irma) tersebut langsung mendapatkan perawatan dengan mendapatkan beberapa jahitan di kepalanya.



Keluarga Korban Sedang Menunggu Orang Tua yang Sedang dalam Perawatan


Sesaat kemudian melintas Kepala Lorong, sebutan KEPLOR untuk seorang penanggungjawab di daerah, sehingga salah seorang warga langsung menanyakan kepada Bapak Horas Nainggolan sebagai Keplor tentang bagaimana reaksinya melihat kejadian tersebut dan apa tindakan yang telah dan yang akan dilakukannya sebagai orang yang bertanggungjawab terhadap daerah tersebut.





“Sudah dikirim surat ke DPRD Labuhanbatu Utara (Pemda Labura), ya kita menunggu hasil dari surat itu dan tindakannya, katanya.”
Warga bertanya ulang, “hanya itu atau apakah adakah hal lain yang dapat dilakukan?”


“Ya kita tunggu saja, sudah disurati setelah itu ya urusan/kewenangan mereka (DPRD), katanya lagi.”


Kemudian, “tutupi saja lubang itu pakai papan,” kata keplor memberikan saran. Namun dijawab, “bahaya bang kalau ditutup pakai papan, karena kan jalan itu diwatii kereta (red:sepeda motor) dan motor (red:mobil),” kata warga menjawab.


Khawatir jika ditutup hanya menggunakan papan orang yang lewat tidak akan mengetahui lubang tersebut dan akan mengalami kejadian lebih membahayakan lagi. Lalu, Keplor tersebut pergi begitu saja meninggalkan warga tanpa melihat orang tua yang barusan saja menjadi korban di wilayahnya itu, sedang dirawat akibat luka dan pendarahan di kepala.





  1. Apakah harus menunggu korban lebih banyak lagi atau korban yang mengalami luka lebih parah dan serius bahkan harus meninggal dunia dulu, baru Pemerintah LABURA turun tangan mengurusi warganya?

  2. Bagaimana jika yang menjadi korban adalah keluarga Anda, dan kemana anggaran negara untuk perbaikan jalan?

  3. Apakah karena kejadian dan rusaknya jalanan terjadi di daerah sehingga pemerintah tidak turut serta bertanggungjawab, dan apa sebenarnya tugas dan tanggungjawab si penanggungjawab daerah tersebut untuk warga di wilayah atau lingkungannya?











Jhohanes Situmorang
Kembali ke atas ↑