Puncak Peringatan Hari Anak Perempuan Internasional

anak perempuan internasional

SIARAN PERS
Puncak Peringatan Hari Anak Perempuan Internasional
Anak Pedalaman Kalimantan Tuntut Pendidikan yang Berkualitas

BLOGGER, KETAPANG - Gaung Hari Anak Perempuan Internasional yang telah dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak empat (4) tahun lalu justru lantang disuarakan dan diperjuangkan oleh para pemerhati hak anak perempuan di pedalaman Kalimantan Barat.

Diketahui, pada 19 Desember 2011 lalu PBB mendeklarasikan tanggal 11 Oktober sebagai Hari Anak Perempuan Internasional untuk mendorong pemenuhan hak-hak anak perempuan dan memperbaiki kehidupan mereka di seluruh dunia.

Peringatan Hari Anak Perempuan Internasional tahun ini diperingati secara meriah selama empat hari berturut-turut sejak Minggu (11/10) lalu di wilayah pedalaman Kalimantan, tepatnya di Dusun Tempayak, Desa Sukakarya, Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Berbagai kegiatan lomba dan sosialisasi hak anak perempuan akan pendidikan yang berkualitas diikuti ratusan anak pedalaman, guru dan orangtua siswa.

Puncak acara yang berlangsung pada hari ini, Rabu (14/10) ditandai dengan peresmian sebuah gedung asrama baru yang khusus menampung anak-anak perempuan dari pedalaman yang menuntut ilmu di SMP dan SMA di Marau. Selain itu, digelar juga berbagai lomba yang diikuti anak-anak perempuan seperti lomba pidato bahasa Inggris dan memasak.

Bertajuk "Berdayakan Anak Perempuan, Ubah Dunia", panitia menggemakan pesan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan karena mereka ini ke depannya memiliki peran penting untuk memutus mata rantai kemiskinan, kejahatan, kekerasan dan diskriminasi antar generasi.

"Saat hari H (Minggu, 11/10) hingga Selasa kemarin, kami mengumpulkan para guru, pemerhati anak dan pedagang-pedagang yang tinggal di sekitar sekolah di Marau ini untuk nonton film, berdiskusi dan sosialisasi Hari Anak Perempuan Internasional. Tujuanya membangun kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak perempuan," tegas Ketua Penyelenggara Peringatan Hari Anak Internasional, Sr. Theresia Kurniawati RGS.

Pemerhati Hak Perempuan dan Anak ini menandaskan anak perempuan memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan, pendidikan, dan kehidupan yang sehat, bukan hanya untuk saat ini, tetapi saat mereka telah tumbuh menjadi perempuan dewasa.

"Bila pemenuhan hak-hak mereka berjalan sesuai harapan, anak perempuan berpotensi menjadi agen penting dalam perubahan dunia," tandasnya.

Meskipun optimis akan masa depan anak-anak pedalaman di Kalimantan, ia mengaku prihatin dengan kebijakan pemerintah Kabupaten Ketapang, dalam hal ini Dinas Pendidikan, yang menganak-tirikan sekolah-sekolah yang ada pedalaman. Bukan rahasia lagi, banyak guru negeri (PNS) di Kabupaten Ketapang, tidak mau mengajar di pedalaman dan justru berbondong-bondong meminta SK penempatan tidak di pedalaman dengan cara-cara melawan prosedur yang ada entah dengan uang pelicin atau kedekatan dengan pejabat di kabupaten.

Anehnya, praktik ini kian menjamur. Maraknya praktik melawan prosedur agar tidak mengajar di pedalaman ini pun diakui Wakil Kepala Sekolah SMAN I Marau, Frans Apeng.

"Sudah dua kali kejadian. Pertama, pada 4 tahun lalu, dimana dalam satu tahun 7 guru pindah. Itu yang membuat saya ngamuk karena dengan begitu di sini gurunya hanya sedikit, tetapi di kota Ketapang terjadi penumpukan guru. Tahun ini kejadian serupa terulang lagi," tegasnya.

"Anak-anak ini perlu pendidikan yang berkualitas, tetapi guru-gurunya tidak ada," akunya prihatin sembari mendesak Menteri Pendidikan Anies Baswedan benar-benar memperhatikan sekolah-sekolah yang ada di pedalaman dan menindak oknum Dinas Pendidikan di tingkat kabupaten dan sekda serta pejabat lainnya yang mengambil untung dari SK Penempatan dan Pemindahan Guru.

Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Ketapang, Irawan pun mengonfirmasi soal kisruh dan praktis uang pelicin dan kongkalikong SK Pemindahan Guru dari pedalaman ke kota kabupaten ini.

"Kepala Dinas ngaku tidak tahu soal perpindahan ini. Kita dengar dari kanan-kiri, Sekda saat ini diduga ikut bermain di dalamnya sehingga Disdik tidak bisa apa-apa. Akibatnya, guru di sekolah-sekolah di hulu atau pedalaman sangat sedikit," akunya.

Ia pun mempertanyakan kebijakan soal pemerataan guru yang telah digembar-gemborkan Pemerintah Kabupaten Ketapang, tapi justru telah dilanggar. Selidik punya selidik, memang ada indikasi permaian SK Penempatan dan Pemindahan Guru di Ketapang. "Kami akan memanggil dinas dan pejabat terkait kasus ini," janjinya.***

Contact Person
Ketua Penyelenggara Peringatan Hari Anak Perempuan Internasional
Sr. Theresia Kurniawati RGS (082357534000)

0 komentar:

Posting Komentar

Kembali ke atas ↑