Koreksi Koran-Sindo oleh bloggernes

bloggernes

Awalnya saya melihat postingan di wall Facebook seorang teman yang ngeshare tentang informasi sekolah yang rusak, agar pemerintah segera memperbaiki sekolah tersebut.
Saya mengetahui hal ini dengan membaca keterangan dan komentar-komentarnya, "sehingga dengan menggunggah portret-potret seperti ini semoga pejabat yang berwenang dapat diingatkan akan tugasnya." Tulis NS di akun profil facebooknya.

Tetapi setelah mengklik link yang dirujuk untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang sekolah rusak itu, saya jadi bingung. Karena tulisan dari situs yang mengarah ke Koran-Sindo.com tersebut sangat tidak baik untuk dibaca.

Hal tersebut terlihat dari huruf-huruf yang tertulis sangat tidak rapi. Terlalu berantakan untuk ukuran media sebesar Koran Sindo yang juga merupakan bagian dari MNC Group.

Apakah tulisan tersebut tanpa melalui proses editing, atau minimal dibaca oleh admin yang bertugas mengupload berita di website Koran-Sindo.com?

Apakah langsung copy-paste dari penulis, tanpa mengetahui apa isi dari tulisan tersebut?

Atau tulisan tersebut merupakan tulisan yang dikutip dari media lain, yang langsung copy tanpa baca, konfirmasi, cek atau cermati isi tulisannya paste di newsroom area (dashboard/login portal news) untuk di upload oleh admin atau petugas submit tulisan update?

Ahhh, yang ke-3 ini sepertinya tidak mungkin. Karena Koran-Sindo.com memiliki moto/slogan "Sumber Referensi Terpercaya" yang sudah pasti seharusnya iya dan benar.

Tapi silakan Anda baca sendiri tulisan yang berjudul Siswa SDN Setupatok Belajar di Teras, apakah baik penulisannya atau bagaimana menurut Anda? Terutama dalam hal pengejaan atau EYD.

Saya lampirkan link sumber aslinya beserta skrinsut langsung dari website Koran-Sindo.com saat saya membaca dan menuliskan koreksi Koran-Sindo oleh bloggernes ini.


Silakan klik gambar untuk memperbesar dan melihat skrinsut atau hasil capture saya ini, atau langsung menuju sumber asli link tautan berikut ini
http://www.koran-sindo.com/read/1035324/151/siswa-sdn-setupatok-belajar-di-teras-1440120310

Isi tulisan tersebut persis seperti di bawah ini;

_________________________
Puluhan murid SDN 1 Setupatok, Desa Setupatok, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, sejak sekitar dua tahun terakhir terpaksa belajar di teras depan kelas.

Mereka dihantui kekhawatiran akan ancaman ambruknya pla fon kelas akibat konstruksi yang la bil. Sebagian plafon tampak men - juntai, memperlihatkan ra ng ka ba ngunan. Para murid yang ter - paksa belajar di teras te ru tama berasal dari kelas 5 dan 6. “Nggak betah, banyak debu dan sampah yang terbang, bikin se sak nafas. Tapi kalau belajar di da lam kelas, takut kejatuhan gen ting,” ungkap seorang mu - rid kelas 6, Ali, kemarin.

Berdasarkan pantauan KO - RAN SINDO sekolah ini hanya ber alas ubin teras yang sebagian per mukaannya pun telah pe - cah, mereka mengikuti ke gia - tan belajar mengajar setiap hari. Pa ra murid mencatat pelajaran di buku masing-masing tanpa me ja dan kursi. Sebagian me - nem patkan bukunya di paha dan lainnya di ubin teras hingga mem buat tubuh mereka mem - bung kuk saat menulis. Di depannya, papan tulis hi - tam diletakkan agar terlihat se - mua murid.

Sesekali angin yang ber tiup membawa debu dan ko - toran dari lapangan sekolah yang berada di samping teras. Se lain pada bagian atap, ke ru - sakan juga tampak pada bagian jen dela kelas. Sejumlah meja dan kursi yang berada di dalam ke las teronggok di tempatnya ma sing-masing, tak berfungsi se bagaimana harusnya. Salah seorang guru yang me - ru pakan wali kelas 6, Idris, men je - las kan, bangunan sekolah sen diri te lah berdiri sejak s ek i tar 1970.

Re hab terakhir se ko lah terjadi pa - da 2003 dan pe nga juan per bai - kan sendiri su dah diajukan. “Bangunan yang rusak dua lo - kal ini, kelas 5 dan 6. Sudah li ma ta - hun rusak dan per min taan per - baikan diajukan ke pem da, tapi be lum ada tin da kan,” te rang - nya.Menurutnya se tidaknya ada 40 murid kelas 5 dan 51 murid ke - las 6 yang ter pak sa belajar di luar ke las rusak.

Mes ki telah lima ta - hun ba ngu nan rusak, baru dua ta - hun ter akhir inilah para murid be - lajar di luar kelas. Hal itu terpaksa dilakukan me ngingat para murid kerap ce - mas bangunan akan ambruk di te ngah kegiatan belajarnya. Me reka menolak belajar di da - lam kelas dengan alasan ke ta ku - tan.

Namun begitu, lanjutnya, tak jarang mereka belajar di da - lam kelas ketika kondisinya di - rasa memungkinkan. Situasi pa ling memprihatinkan dira sa - kan para murid kala musim hu - jan. Bukan hanya kelas rusak, mu sim hujan kerap membuat ke las banjir akibat atap bocor.

“Kalau hujan, air suka masuk kelas dan menggenang se hing - ga harus dikuras dulu. Malah tak bi sa belajar di dalam,” ujarnya. Bukan hanya ruang kelas 5 dan 6, kebocoran juga dialami ruang kantor guru hingga membuat buku-buku dan arsip sekolah basah.
_________________________

Tercatat penulisnya adalah: Erika lia, benar atau tidak saya kurang tau persis, karena terdapat juga ada kode 3 huruf yang biasa digunakan media disetiap akhir tulisan artikel/berita, yaitu: (ftr). Apakah huruf "ftr" sebagai editor atau admin yang bertugas upload/submit berita di website yang "katanya" sumber referensi terpercaya ini?

Silakan Anda yang menilai sendiri, dan pertimbangkan kembali apakah lebih percaya dengan tulisan di portal media sebesar itu itu atau tulisan seorang blogger di blog pribadi? ^_^

1 komentar:

Bimakuru mengatakan...

wekekek, langsung copy-paste tuh kayaknya
atau format editor text-nya beda sama kek di webnya hihiiii

Posting Komentar

Kembali ke atas ↑