Metrotv merubah amuk massa di Tolikara

amuk massa tolikara
Metro TV News, kenapa ganti judul?

Awalnya saya hanya melihat postingan Facebook yang mengunggah sebuah gambar yang menurut saya menarik untuk diperhatikan, dan gambar tersebutlah yang saya gunakan diatas ini. Gambar tersebut merupakan sebuah hasil skrinsut/capture dari salah satu tulisan berita online Metrotvnews.com yang diunggah oleh Ronny Kiev.

Metro TV merubah judul berita yang sebelumnya tertulis dengan judul asli Saat Imam Takbir Pertama, Sekelompok Orang Datang dan Lempari Musala di Tolikara yang diganti menjadi Amuk Massa Terjadi di Tolikara.

Apakah penggantian judul tersebut untuk demi memperhalus berita atau mengaburkan berita?

Silakan klik link/tautan berikut;
http://news.metrotvnews.com/read/2015/07/17/148328/saat-imam-takbir-pertama-sekelompok-orang-datang-dan-lempari-musala-di-tolikara
Kemudian, perhatikan browser Anda.

Berikut isi yang dikutip langsung dari Metrotvnews.com
"Kekacauan terjadi pada pelaksanaan salat Idul Fitri 1436 Hijriah di Kabupaten Tolikara, Papua. Warga setempat jadi ketakutan.

Peristiwa itu terjadi sekira pukul 07.00 WIT, Jumat 17 Juli. Umat Islam tengah melaksanakan salat Id di halaman Koramil 1702 / JWY. Beberapa orang tibs-tiba datang berteriak.

Jemaah bubar dan menyelamatkan diri ke markas Koramil. Sejam kemudian, orang-orang itu melempar batu dan membakar bangunan di sekitar lokasi kejadian. Enam rumah dan sebelas kios pun menjadi sasaran amukan orang-orang itu.

Hingga berita ini dimuat, polisi dan TNI berjaga-jaga di sekitar lokasi kejadian. Petugas gabungan mengantisipasi kerusuhan berlanjut. Alasan pengrusakan dan pembakaran tersebut pun belum diketahui. Belum ada pula keterangan resmi dari aparat setempat."

Walau berita yang ditulis oleh Ricardo Hutahaean (17 Juli 2015 09:59 wib) telah mengganti judulnya, tulisan tersebut mendapatkan komentar yang jarang terjadi bagi para netter atau pengguna akun sosial media. Komentar dari seorang pengguna Facebook bernama Eky Suherdi.

Isi komentarnya, sebagai berikut;
"Sesungguhnya dari kejadian ini ada beberapa hal yg seharusnya menjadi perhatian pemerintah dan pemuka agama:
  1. Bahwa semakin kurangnya edukasi dari pemuka dan pemimpin agama terhadap tata cara beribadah dari masing2 agama. Sehingga oknum pemuka agama dapat sesuka hatinya menafsirkan dari prosesi kegiatan religi tsb.
  2. Ingat bahwa Pancasila dan UUD 45 sangat sangat menjamin dan menjunjung tinggi keragaman agama dan para pemeluknya untuk menjalankan ibadahnya, negara juga menjamin kebebasan berkumpul dan berserikat dalam menjalankan kebajikan. Hal ini yg seharusnya disosialisasikan oleh negara dan penegak hukum agar melihat dan menindak tegas oknum oknum yg mengatasnamakan agama untuk menggerakan masa bertindak anarkis.
  3. Bahwa toleransi agama tidak dapat diartikan sebagai dominasi anarki minoritas maupun mayoritas, tiada pembenaran atas nama agama apapun untuk bertindak anarkis tanpa sebab dan musabab yg jelas.
  4. Dimana negara ada pemerintahan dan perangkat hukum yg jelas tentunya harus dapat menyidik kejadian ini dengan benar, jangan sampai hal hal berbau SARA dikedepankan sebagai tameng pembenaran, semoga hal ini dapat menjadi pelajaran dan terhindar dari issue issue yg terpendam, bila ini ulah oknum tangkap dan adili!! Karena semua agama mengajarkan kasih sayang..berpelukan...teletabis
  5. Pemerintah sudah selayaknya kembali menjalankan dakwah dakwah kerukunan umat beragama, jangan serahkan masalah kerukunan beragama kepasar, bisa kacau seperti harga BBM dan kebutuhan pokok diserahkan kepasar.
Dah itu saja, semoga umat beragama di Indonesia tidak dikacaukan dengan teori devide et impera ataupun teori Speaker, percayalah ini kerjaan oknum yg tidak paham atas agama yg dianutnya."

Silakan Anda sendiri yang memberikan komentar, apa dan bagaimana seharusnya mengambil sikap dan memberikan peryataan terkait hal/kejadian diatas. Baik berupa pemberitaannya, ataupun kejadiannya sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar

Kembali ke atas ↑