DERANTAU bukan komunitas perantau Indonesia

bloggernes Saat melihat acara di salah satu TV swasta saya sangat tertarik menontonnya, karena acara tersebut menampilkan salah satu komunitas yang awalnya menurut saya acara tersebut merupakan kegiatan yang berhubungan dengan apa yang saya alami sekarang. Yaitu, Komunitas yang para perantau melakukan kegiatan aksi sosial berbagi makanan buka puasa. Komunitas tersebut bernama DERANTAU, dimana anggotanya adalah para perantau yang berada di Jakarta. Dalam hal ini saya sebagai perantau, karena saya berasal dari Sumatra yang saat ini berdomisili di Ibukota, yaitu Jakarta.

Komunitas yang melakukan aksi berbagi makanan buat berbuka puasa tersebut dilakukan di stasiun Sudirman, Jakarta Pusat. Kemudian melakukan aksi sosial lainnya di "Panti Wreda" (menggunakan tanda petik karena lupa-lupa ingat nama panti jomponya).

Tapi disaat menyaksikan acara tersebut, ada hal yang membuat saya sangat terusik. Yaitu, seorang pria bernama Habib sepertinya koordinator kegiatan karena dari awal dirinyalah yang paling banyak ditampilkan, seakan yang menjadi tokoh utama diliputan kegiatan. Saat diwawancara pria yang tertulis di text line seorang anggota berasal dari Lampung.

Padahal jika, dikaji lebih lagi bahwa kota Lampung dengan Jakarta jaraknya tidak begitu jauh. Hanya melalui Merak-Bakauheni saja jarak sudah dapat dijangkau. Satu kali seminggu masih dapat dilakukan, atau setidaknya sekali sebulan. Apakah seperti itu yang disebut perantau?

Kemudian kegiatan lainnya, yaitu aksi sosial di panti jompo. Seorang wanita yang menjadi koordinator, karena pemberi arahan kepada para opa dan oma (kakek-nenek) di panti tersebut dan dirinyalah yang diwawancara dan yang memberikan keterangan saat kegiatan tersebut kepada pemirsa dirumah. Saya tidak tahu namanya (lupa) karena tidak ada text line keterangan orang yang berbicara. Tapi di dalam keterangannya perempuan yang menggunakan kerudung tersebut menjelaskan bahwa dirinya berasal dari kota Bandung, dan berulang kali mengatakan bahwa kota Bandung itu jauh.

Padahal kota Bandung juga tidak sejauh apa yang seperti dikatakannya. Karena dari kota Jakarta menuju kota Bandung hanya berkisar 3-4 jam saja. Setiap hari juga dilakukan bisa kalau Anda mau, atau satu kali seminggu masih dapat dilakukan, atau setidaknya sekali sebulan Anda juga dapat melakukan perjalan ditempat Anda berada saat ini dengan tempat asal Anda. Apalagi masih sesama berada di pulau jawa pula. Apakah seperti itu yang disebut perantau?

Saya merasa terusik dengan keterangan para pembicara yang ada ditayangan tersebut karena para/ anggota Derantau yang katanya perantau tersebut bukanlah perantau sebenarnya menurut saya. Jarak kampung halaman dengan domisili saat ini masih terlalu dekat untuk dikatakan sebagai perantau, dan dapat dilakukan kapan saja jika anda ingin pulang ke tempat asal Anda.

Yang dikatakan merantau bukanlah seperti itu, coba Anda bayangkan jauh mana Anda dengan saya?
Saya lahir dan besar di Sumatra Utara, menuntut ilmu di Yogyakarta, sekarang berdomisili di Jakarta.
1. Berapa lama jarak yang Anda tempuh menuju kampung halaman saya?
2. Berapa biaya yang harus anda habiskan untuk pu
3. Berapa kali intensitas anda pulang kampung?

Walau saya belum seperti perantau lainnya yang berada di luar negeri, tapi saya dengan Anda sangat jauh perbedaannya jika dikatakan perantau.

Seberapa jauh Anda dari kampung halaman Anda? Dan seberapa besar biaya yang harus anda keluarga jika anda pulang kampung? Serta berapa lama Anda meninggalkan kampung halaman untuk dapat kembali dan berangkat lagi ketempat Anda berada saat ini, alias pulang pergi?

0 komentar:

Posting Komentar

Kembali ke atas ↑