Komentar sampah di media sampah

Masih berhubungan dengan postingan yang sebelumnya berjudul Wawancara sampah dengan media sampah. Kali ini membuat saya merasa geli adalah saat melihat sebuah komentar dari seseorang yang menuliskan komentarnya pukul 12:22 tanggal 29 Juni 2010, mengaku bernama Mintardjo.

bloggernes

Artinya komentar tersebut dituliskan satu hari setelah artikel berjudul Hanung, Kau Keterlaluan: Pesantren dan Kiyai Begitu Kau Burukkan dipublikasikan oleh Kabarnet.in.
http://kabarnet.in/2010/06/28/hanung-kau-keterlaluan-pesantren-dan-kiyai-begitu-kau%c2%a0burukkan/comment-page-1/#comment-18331

Berikut saya kutipkan kembali tulisan dari komentar tersebut:

<-- start -->
DEMOKRASI DAN MODERNISASI KEBABLASAN
Pelajaran yang dapat kita simpulkan dari perjalanan sejarah demokrasi yang bersumber dari Barat sebenarnya tidak lebih baik dari Demokrasi rimba raya hutan, karena sebenarnya tidak memakai “ Kekuatan Logika “ namun sebaliknya Amerika memakai “Logika Kekuatan“, karena kenyataannya hanya mereka yang mempunyai kekuatan lah (baik kekuatan tehnologi, kekuatan ekonomi, maupun kekuatan jaringan) yang mempunyai kebebasan dan hak suara meskipun jumlah mereka tidak lebih dari 10%, sedangkan mereka yang lemah meskipun jumlahnya banyak dalam kenyataannya justru hanya menjadi obyek dari jumlah yang sedikit tersebut diatas, yang bisa diperlakukan seperti apa saja.

Sedangkan modernisasi yang dapat kita simpulkan adalah modernisasi yang tanpa batas yang boleh menabrak semua norma dan nilai, bahkan norma dan nilai tidak berlaku lagi, lebih-lebih agama. Sedangkan “HAM“ yang digembar-gemborkan oleh Barat, selama ini adalah HAM yang rasialis, sadis, biadab dan keji,

Berbicara Demokrasi, Roger Garaudy berkata dalam bukunya “Amerika, Pioner Keruntuhan“ Demokrasi selalu menjadi tirai yang menutupi minoritas, baik itu para tuan pemilik budak maupun pemilik modal. Apa yang disebut sebagai “ Demokrasi Athena “ di jaman Pericles yang menjadi prototype dari induk demokrasi, pada hakikatnya hanyalah kekuasaan duapuluh ribu warga Negara yang bebas terhadap seratus ribu budak yang tidak mendapat hak apapun. Kita sedang berada di hadapan kekuasaan minoritas yang memperbudak dan disebut demokrasi. Ia adalah demokrasi untuk para penguasa, bukan untuk orang lain.

Garaudy kemudian mengungkapkan runtuhnya logika peradaban Barat yang oleh para pengagumnya dianggap sebagai Guru Umat Manusia. Guru-guru moral mereka sekalipun mereka adalah orang-orang Barat, memberikan contoh bagi Dunia tentang fundamentalisme yang jauh lebih radikal, karena fundamentalisme adalah klaim kepemilikan mutlak dan monopoli kebenaran, bahkan wajib memaksakan kepada orang lain. Contoh paling bagus fundamentalisme adalah penjajahan yang ditopang oleh argumentasi menyebarkan dan mengukuhkan ajaran injil, untuk memaksakan pemahamannya tentang agama terhadap seluruh dunia, agar para personil militer dan perdagangan melakukan pekerjaan sisanya, yaitu pembantaian dan eksploitasi. Ketika agama mengalami kemunduran, maka para penjajah itu mengalami kemajuan untuk memaksakan “ modernisme “ mereka terhadap seluruh dunia. Fundamentalisme Barat yang menyimpang, sesungguhnya merupakan pokok semua fundamentalisme, kemudian lahirlah bentuk-bentuk fundamentalisme lainnya sebagai reaksi atas fundamentalisme pokok dari Barat dan para sekutunya.

Barat berupaya untuk mengubah norma-norma lama, karena norma-norma tersebut memiliki patokan yang mandiri yang bisa jadi dapat menguntungkan atau merugikan. Ia berupaya untuk menancapkan pilar-pilar untuk norma-norma yang telah terdistorsi yang bersumber dari keinginan dan nafsunya yang kesimpulannya norma-norma itu harus mengikuti perilakunya, buka perilaku yang harus mengikuti norma.

Bila hal itu telah terwujud dengan diabaikannya semua norma lama, dan telah tercipta norma-norma baru serta masyarakat telah diyakinkan bahwa norma-norma baru ini bersifat relative, tidak mutlak, bisa berubah bahkan pasti berubah, persis seperti berubahnya mode pakaian atau mobil. Jadi jika norma-norma dan nilai-nilai sudah kacau maka norma-norma yang campur aduk menjadi hal yang biasa, maka selainnya merupakan hal yang bathil, maka penyimpangan seks menjadi hal yang biasa karena nilai dan norma sudah tidak berlaku lagi.

Dr. Abdul Wahhab Masiri dalam sebuah bukunya mengatakan: Wajar bila relativisme berpengaruh dalam berbagai bidang kehidupan, khususnya bidang seni. Pada tahun enam puluhan mulailah gerakan pemberontakan terhadap ikatan dan batasan dalam seni, baik ikatan moral maupun estetika. Kecenderungan kepada permisifisme dan kekerasan meningkat, kemudian gerakan pembebasan melampaui keduanya, karena gerakan ini telah menjadi pembebasan dari semua ikatan dan norma. Salah satu tokoh penting dalam Bazan Rewiew di Roger State University adalah seorang seminan bernama Andy Warhol yang pada pertengahan tahun enampuluhan menemukan kaleng sampah dan kaleng sup, yang dengan kemampuan seorang ahli bisa berubah menjadi pekerjaan seni yang laku dijual hingga ribuan dollar. Ia mempunyai sebuah film berjudul “ Sleep “ yang ditayangkan selama tiga jam, menggambarkan seorang yang tidur, bergerak setiap seperempat jam atau sepuluh menit. Pada masa itu saya juga melihat sekelompok teater yang menamakan diri “ Pentas Realisme Radikal “ sedangkan judul pementasan yang dimainkannya adalah “ Saudara Perempuan Fidel Castro “. Pentas ini penuh dengan isyarat-isyarat seksual anak-anak (diantaranya menampilkan organ-organ produksi) yang tidak bertujuan menyampaikan misi apapun, karena misi yang utama adalah membuat benturan terhadap masyarakat. Tetapi yang lebih dahsyat dan disebabkan oleh suatu factor yang hingga sekarang tidak saya mengerti , para pemain wanita memainkan peran pria, sedangkan pemain pria memainkan peran wanita. Semua ini dilakukan atas nama kreativitas, relativitas dan kebebasan.

Yang membuat saya bingung adalah mayoritas penonton mengungkapkan kekagumannya yang luar biasa terhadap pentas ini, yang tidak seorangpun hari ini mendengar mengenainya, persis seperti yang diungkapkan tentang kekagumannya terhadap film Sleep. Arus ini terus berkembang sehingga akhir-akhir ini menampilkan dirinya dalam bentuk yang sangat agitatif dalam hasil karya tiga orang seniman penganjur relativisme ekstrim, karena telah meyakini kebebasan tanpa batas kemanusiaan itu sendiri. Salah seorang dari mereka adalah Andrea Serrano, kemasyhurannya disebabkan oleh sebuah kanvas yang diberinya judul “ Kencinglah atas nama Tuhan Yesus “ dimana seniman menempatkan patung Yesus diatas Salib sambil kencing.

Yang kedua adalah Robert Mapplethorpe, ia seorang fotografer yang memiliki spesialisasi dalam mengambil gambar dirinya dalam kondisi seksual yang menyimpang yang radikal.

Yang Ketiga, dan paling terkenal adalah Joel-Peter Witkin, seorang fptografer yang menggunakan jasad-jasad mayat dalam membuat kreasi seninya. Salah satu kreativitasnya yang paling penting adalah : Hari Raya Orang-orang Lalai. Karya ini meniru salah satu jenis seni klasik yang dinamai “ Tertipu “, tema utamanya adalah ketertipuan manusia dan penegasan bahwa segala sesuatu akan musnah. Latar belakang obyek yang digambar adalah buah-buahan atau makanan yang berada di nampan kemudian disampingnya terletak tengkorak manusia dan bangkai burung dalam satu nampan, untuk mengingatkan manusia kepada suatu kematian.

Tetapi Witkin mengembangkan metode penyajian dan sebagainya, karena sebagai pengganti dari tengkorak itu, ia meletakkan tangan-tangan dan kaki-kaki manusia seungguhan, dan sebagai pengganti bangkai burung, ia meletakkan mayat bayi ( konon, ia menciptakan kreasinya disebuah ruang otopsi ). Salah satu tema favorit Witkin adalah foto mayat-mayat yang mengenakan sedikit pakaian, dan foto seorang pria yang memasang paku di penisnya ( inilah satu-satunya cara yang digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain, begitu sang seniman memberitahu kami). Witkin juga membuat kreasi dua papan foto yang terkenal : yang satu janin abnormal yang telah dipancang di tiang salib, dan seorang lelaki tanpa kepada yang duduk di atas kursi. Ketika salah seorang wanita undangan dalam pesta pembukaan pameran tersebut muntah-muntah, sang seniman berkata: “salah satu ciri wanita cantik adalah tetap memelihara kecantikannya, sekalipun pada saat muntah”. Sebuah karya fotografi yang dijual dengan harga 35 ribu dollar (diantara agennya adalah seniman Richard Gere dan John Iltot). Dalam sebuah artikel tentang Witkin, penulisnya mengatakan: “Jika para seniman mengekspresikan karakter dirinya, melalui karya-katya fotografi mereka, maka Witkin jelas merupakan seorang yang sadis” kehidupan Witkin pun tidak kalah sadis dan ralatif. Ketika seorang wartawan mengadakan wawancara denganya, maka sering ia berbicara sambil mengenakan topeng Zoro. Ia hidup bersama Isterinya Chintya dan kekasihnya Barbara, mereka tidur seranjang. Ia mempunyai seorang anak laki-laki dari Chintya yang diberi nama Carson (bayangkan problem kepribadian yang akan dihadapi oleh anak laki-lakinya, khususnya bila ia telah mengetahui bahwa sang seniman mengakui ia sering melakukan aktivitas seksual bersama karya-karyanya, yaitu bangkai-bangkai). Disini kita mengungkap persoalan privacy dalam kepribadian masyarakat , apakah ini merupakan kehidupan pribadinya seorang ? Apakah penyakit misterius yang menimpa Nietzche telah mempengaruhi otaknya, padahal ia tidak memiliki hubungan sama sekali dengan falsafah yang dari bawah jubahnya keluar faham filsafat modern? (Katakan hal yang sama tentang Theodore Herzl, pendiri gerakan Zionisne, yang pada akhirnya tewas karena penyakit misterius).

Apakah hanya sampai disini , kejorokan kesadisan para seniman yang menganut relativitas, Dr. Abdul Wahhab Masiri melanjutkan:
“ Tren aliran seni ini akhirnya sampai pada apa yang disebut sebagai “Sinful Movies“. Saya tidak mengerti apa arti istilah ini, tetapi barangkali dengan menggambarkannya akan bisa memberikan penjelasan tentang substansinya. Ia adalah film yang memadukan antara kekerasan dan seks secara sangat ekstrim. Sering adeganya diakhiri dengan seorang wanita pemerin film ini yang dalam kondisi orgasme, kemudian ia dibunuh ketika puncak orgasmenya. Pemandangan seperti ini sudah jamak dalam film-film permisif “biasa“, tetapi dalam “Sinful Movies“ penyembelihan benar-benar dilakukan. “Ya, wanita yang menjadi lakon film itu dibunuh “kemudian disampaikanlah sebuah pesan tentang film ini dengan kalimat yang berbunyi “sebuah pemandangan di Amerika Latin, di mana harga tenaga kerja sangat murah“.

Para produser film ini, terdorong untuk memproduksinya dengan melihat dari kacamata kreativitas, kebebasan, dan revolosi,,, dst. Sebagian intelaktual liberalis yang membela kebebasan pendapat absolute melakukan demonstrasi mengecam film-film yang menampilkan gambar-gambar semacam ini. Tetapi surat kabar “Wall Street Journal“ mengecam sikap mereka ini dan menjelaskan kepada mereka bahwa apa yang terjadi hanyalah hasil wajar dari relativitas sebuah karya seni, seksualitas, penolakan terhadap batas-batas apapun atas nama kebebasan dan kreativitas tak terbatas.

Sekarang bagaimanakah perasaan pembaca, apakah anda menjadi terkejut, demam, ataukah anda terguncang, atau anda merasa mual.

Suatu hal yang lebih menyakitkan melebihi rasa sakit yang sebenarnya, adalah perasaan korban sembelihan itu terhadap pengkhianatan sampah-sampah hina para intelektual yang menggembar-gemborkan modernisme dan relativisme, serta mengangkat tinggi-tinggi perdaban Barat seraya memaki Islam.
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa HAM yang digembar-gemborkan oleh Barat ternyata sangat rasilais dan hanya berlaku bagi orang kulit putih, sedang bagi ras lain khususnya yang berwarna tidak berlaku, sehingga HAM hanya dipakai untuk melindungi para pelacur dan penganut kebebasan seks dari penolakan dan pengusiran masyarakat.

Sedangkan modernisasi dan kebebasan yang mereka inginkan adalah kebebasan tanpa batas yang melabrak semua nilai dan norma.
Inikah peradaban yang mereka inginkan agar kita anut serta kita meninggalkan nilai-nilai luhur yang dibawa oleh Rasululllah Muhammad dari Allah Sang Pencipta dan Pemelihara jagad raya ini?

Sekarang kita kembali ke Negeri ini, yang mayoritas penduduknya beraga Islam, masihkah penguasa negeri ini akan menelan mentah-mentah apa yang selama ini digembar-gemborkan oleh Barat seperti HAM dan modernisasi serta kebebasan, padahal inilah sebenarnya yang menyebabkan kehancuran moral bangsa Indonesia serta laknat Allah dengan berbagai bencana yang tak kunjung berhenti.
<-- end -->

bloggernesCukup menggelitik bukan, terlepas dari isi tulisannya, tapi ini merupakan komentar yang sangat panjang. Berupa artikel opini yang luar biasa, sehingga membuat saya untuk mengabadikannya dan menitipkannya di postingan blog saya yang saat ini sedang Anda baca. :)

Terlepas dari medianya yang sampah atau komentarnya juga sampah, tapi ini adalah buah karya. Yaitu, karya melalui tulisan.

0 komentar:

Posting Komentar

Kembali ke atas ↑