DPR: Dewan Perwakilan Rakus

dpr ri

Sebenarnya saya tidak ingin menulis tentang DPR ini, tapi karena sudah tidak tahan lagi menahan kegelisahan akan Indonesia kedepannya, ditambah lagi ada wacana pemekaran komisi di DPR.

Saya menuliskan judul DPR: Dewan Perwakilan Rakus bukan tanpa alasan, tetapi hampir bisa dikatakan seperti itulah sistem pemerintahan kita sekarang ini, khususnya di DPR (Dewan Perwakilan Rakyat).

Masih teringat jelas bagaimana proses yang terjadi pada saat pemilihan Presiden yang lalu. Sangat ambisiusnya seorang Prabowo untuk menjadi Presiden Indonesia 2014-2019, walau beliau mengatakan semua diserahkan kepada rakyat, karena rakyat tahu siapa yang akan menjadi pemimpinnya.

Tapi yang terbukti adalah, bahwa menurut saya beliau sangat "blunder" dengan setiap perkataan-perkataannya. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan mengambil keputusan menarik diri dari proses pemilu, yang nyatanya bukan seperti malahan sangat mengotot harus menjadi Presiden dengan pergerakan-pergerakan yang dilakukannya.
Begitu juga dengan ketidakteriamaannya bahwa pilihan rakyat adalah Jokowi-JK, sangat menggambarkan bahwa beliau tidak legowo dengan keadaannya.
Sampai akhirnya muncullah serangan yang sangat frontal bagi masyarakat Indonesia yang dilakukan para koalisi pendukung Prabowo yang menyebut diri mereka Koalisi Merah Putih, walau tidak jelas dimana letak rasa kepedulian atau cintanya akan Merah Putih yaitu Indonesia.

Merampas Hak Rakyat

Dengan keadaan yang membuat politik di Indonesia semakin tidak sehat Prabowo Subianto dengan para pendukungnya merampas Hak Rakyat Indonesia meniadakan pemilihan langsung. Hal ini sangat jelas bahwa mereka menginginkan bahwa pemilihan dilakukan di DPR saja,

walaupun dengan kalimat "diwakilkan". Dimana letak kata perwakilannya? Yang notabene orang-orang yang ada DPR tersebut bukan perwakilan rakyat, tetapi perwakilan Prabowo dengan para Koalisinya.

Masih teringat jelas beberapa hari yang lalu bagaimana proses pemilihan Ketua dan Wakil Ketua DPR, bahwa proses sidang tersebut seperti sudah sangat dipersiapkan.
Saya mengikuti langsung persidangan tersebut melalui tanyangan di salah satu stasiun televisi swasta, dari awal mulai sampai selesainya proses sidang tersebut yang menyebabkan saya harus tidur jam 5 pagi.

Hal pertama yang membuat sidang tersebut sangat diatur adalah prosesnya yang sepertinya disengaja dilakukan malam hari supaya tidak banyak masyarakat yang mengetahui proses sidang itu berlangsung karena akan larut malam, dipaksakan harus selesai sampai subuh hari.
Hal kedua terlihat jelas selama proses persidangan tidak memandang adanya kelompok lain selain koalisi Prabowo, begitu juga dengan pemimpin sidang sementara Ceu Pongpong, yang tidak ingin mendengarkan interupsi dari pihak lain selain dari kubu mereka.
Dari tingkah laku ceu Pongpong tersebut mengisyaratkan bahwa beliau ada main dengan kelompok Prabowo.
Hal ketiga, keanehan dari tatib persidangan, proses paket pemilihan dan koalisi Prabowo mengajukan paketnya sangat jelas diatur, dengan sepaketnya semua calon Ketua dan Wakil Ketua DPR 2014-2019.

Popong Otje Djundjunan

Ibu satu ini merupakan Pimpinan sementara sidang pemiliha ketua dan wakil ketua DPR. Seorang warga negara Indonesia yang lahir pada tanggal 30 Desember 1938 di Bandung Jawa Barat. Beliau merupakan politisi Partai Golkar yang saat ini duduk di kursi DPR RI Komisi X yang membidangi pendidikan.
Salah satu penyebab ketidakberjalannya proses sidang yang baik dan benar adalah tindakan beliau. Sangat memonopoli persidangan, tidak mendengarkan keluhan ataupun intruksi.
Selain bertingkah pura-pura bodoh, beliau tidak menunjukkan ke profesionalannya dalam melakukan tugasnya pada saat proses persidangan berlangsung. Baik menggunakan bahasa daerah atau bertingkah seperti orang yang lugu supaya dikatakan polos. POLTAK, polos tak berotak.

Walau tidak mungkin, jelas itu bukan diri seorang Popong Otje Djundjunan.
Begitu juga pada saat pengesahan hasil sidangpun bertingkah seperti anak kecil saja, contohnya, mengatakan apakah di lanjut, beliau sendiri yang langsung menjawab "lanjuuuttt".... contoh lainnya membacakan nama Ketua dan Wakil Ketua DPR terpilih, setelah membaca nama sambil mengetuk palu beliau berucap "tooookkkkk"... Padahal beliau itu orang hebat, pintar, dan yang jelas merupakan Anggota DPR yang terpilih melalui Pemilu tahun tahun 2009.
Apakah anggota dewan itu orang yang bodoh? sepertinya jelas TIDAK!!!

Ada bukti bahwa beliau melakukan kesalahan yang seharusnya tidak terjadi dalam proses persidangan, tetapi tidak berani menunjukkan bahwa dia salah, menerima bukti rekaman tersebut dalam bentuk flashdisk kemudian mengesampingkan begitu saja.
Di tanyangan talkshow salah satu stasiun televisi kemarin ada pertanyaan dari pembawa acara tentang flashdisk tersebut. Tetapi dengan polosnya beliau menjawab bahwa beliau tidak mengenal yang namanya Flasdisk. Flasdik itu apa, katanya.
Apakah mungkin? mengingat tercatat dalam sejarah bahwa beliau aktif dalam kegiatan organisasi mulai dari berusia 16 tahun, aktif diberagam-macam kegiatan sosial masyarakat, dan juga keagamaan. Dan tidak lupa bahwa beliau juga yang telah membuktikan sepak terjangnya mulai dari

tahun 1987 berkontribusinya bagi bangsa dan negara ini. Hal yang membuat saya menganggap beliau sangat bodoh walau sebenarnya pura-pura bodoh.
Selain itu bahasa gampangnya adalah bahwa beliau seorang yang berpendidikan, sudah lama aktif di pemerintahan, apakah tidak pernah ada urusan data atau berkas atau file apapun namanya yang menggunakan flasdik?
Jadi selama ini bekerja di pemerintahan itu dimana bu, di kantoran atau di sawahan?

Tulisan ini bukan berbentuk hinaan atau pencemaran nama baik atau kelompok tertentu, tetapi curahan hati saya seorang blogger yang merupakan bagian dari masyarakat atau disebut rakyat. Selain mereka para koalisi Prabowo, begitu juga dengan orang-orang koalisi Jokowi, sangat tidak mencerminkan sebagai perwakilan rakyat. Dengan begitu gampang mereka melakukan aksi WalkOut (WO) sambil mengatakan bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas hasil persidangan.
Lantas, anda sebagai apa pak/bu? katanya wakil rakyat, kenapa anda tidak berani mengambil sikap mewakili rakyat, seharusnya apapun yang terjadi anda harus berjuang membela rakyat, dan apapun yang terjadi merupakan tanggungjawab anda demi kepentingan rakyat Indonesia, bukan sebagai jurus penyelamatan diri atas kelompok anda.
Bagaimana pejuang-pejuang jaman dulu berjuang demi rakyat Indonesia, jangankan cuma harga diri, nyawa juga mereka korbankan untuk Indonesia.

Hal-hal diataslah yang menyebabkan saya menuliskan postingan yang berjudul DPR: Dewan Perwakilan Rakus. Karena hanya rakus mementingkan diri sendiri dan kelompok masing-masing, bukan kepentingan rakyat Indonesia.

Sekali lagi saya mengatakan bahwa tulisan ini hanya berupa realita yang tuliskan di blog karena saya seorang blogger dan saya sebagai warga negara Indonesia.



0 komentar:

Posting Komentar

Kembali ke atas ↑