Harapan Seorang Anak Tiri

anak tiri

HARAPAN SEORANG ANAK TIRI

Saya seorang anak tunggal. Andre, begitulah  teman-teman memanggil saya dan nama panjang saya Andreas Robby Sanjaya. Umur saya 19 tahun dan saat ini saya sedang menjalani kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Sebelum saya tinggal di Jakarta, saya tinggal di kota medan bersama ayah dan ibu kandung saya. Namun, setelah kepergian ayah kandung saya, saya diajak ibu tinggal di Jakarta bersama ayah tiri saya.

Saya ingin berbagi kisah yang sampai saat ini masih menjadi sebuah harapan dalam hidup saya sebagai seorang anak yang merindukan seorang ayah. Saya mengingat-ingat kisah indah dan manis ketika saya masih bersama ayah kandung saya dulu. Namun, saya pernah benci dan marah kepada ayah yaitu ketika saya masih duduk di bangku SMA saya  meminta motor dan ditolak oleh ayah. Ayah sangat sering menolak permintaan saya. Kalaupun tidak ditolak pasti ditunda-tunda. Itu pun setelah ditanya macam-macam.

Sementara saya juga tak bisa mengharapkan pemberian ibu karena ibu yang saya panggil dengan sebutan “emak”, hanya ibu rumah tangga dan hanya memegang uang belanja saja. Saking kesalnya saya mengeluh dihadapan ayah kalau saya tak ubahnya seperti anak tiri. Akhirnya, ayah mengabulkan keinginan saya dengan syarat saya harus menjadi juara kelas. Meski berat saya berusaha untuk menyanggupi syarat itu, saya belajar keras agar menjadi juara kelas dan mendapatkan motor. Sampai akhirnya saya lulus dan menjadi juara kelas, saya segera pulang  dengan penuh harap kalau motor yang saya ingini telah dibelikan ayah. Namun, sesampai saya dirumah saya sangat kecewa karena saya tidak melihat motor yang saya harapkan itu. Saya langsung mencari ayah. Saya panggil ayah dengan suara yang keras tapi tidak ada jawaban dari ayah. Ketika saya masuk ke kamar ayah, saya hanya mendapati ibu yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke suatu acara.

“Mak, ayah mana?”

“Udah… gak usah lagi cari ayahmu, dia udah pergi”, jawab ibu sambil memakai make up.

“Maksud emak ?”, tanya saya bingung.

Ibu melihat saya sebentar dan kembali menatap cermin,“Ayah kamu pergi ninggalin kita buat selamanya”.

Saya semakin bingung.

“Emang ayah pergi kemana mak?”

Ibu memukul meja,”Kamu jangan banyak tanya!!! Pokoknya ayah kamu gak bakal pulang ke rumah ini lagi. NGERTI!!!”

Saya langsung terdiam mendengar jawaban ibu tadi. Saya pergi ke kamar meninggalkan ibu dengan hati penuh tanya. Sesampai di kamar saya langsung duduk termenung dan sayapun tersadar bahwa ayah saya sebenarnya memiliki masalah yang sangat besar sampai menyebabkan ayah pergi dari rumah meninggalkan saya dan ibu. Saya amat sangat merasa bersalah kepada ayah karena sempat membenci beliau. Sejak kepergian ayah, saya yang tadinya seorang yang periang berubah menjadi seorang yang pemurung. Sering menyendiri. Tak mau lagi berkawan dengan teman-teman. Karena saya cuma mengharapkan kepulangan Ayah

Setiap malam saya menangis mengharapkan ayah pulang.

Saya bertanya dalam hati “Apakah ayah telah melupakan saya?”.

Ayah tak pulang-pulang hingga hari ini.

Sebulan setelah kepergian ayah, ibu memperkenalkan seorang pria kepada saya. Ibu mengatakan kalau pria itu hanyalah temannya saja. Namun, kenyatanya sebulan setelah perkenalan itu ibu menikah dengan pria tersebut. Dan kini saya benar-benar telah menjadi anak tiri.

Kemudian setelah ibu menikah dengan pria itu, saya diajak ibu pindah ke Jakarta untuk tinggal serumah dengan ayah tiri saya. Dan kami tinggal bertiga di sana. Saya merasa tidak nyaman tinggal di sana. Dan saya meminta kepada ibu supaya saya tinggal bersama nenek di Jogja. Namun, ibu tidak memperbolehkan saya tinggal  bersama nenek. Kata Ibu nanti sulit mengawasi saya. Lagipula nenek sudah tua. Bener juga kata ibu.

Setelah sekian lama saya tinggal di Jakarta saya sering bermimpi bertemu dengan ayah. Sampai pada suatu siang yang terik ketika saya duduk termenung di kamar, saya seperti mendengar suara bisikan yang sangat lembut. Suara tersebut menyuruh saya untuk mencari Ayah ke Sumatera, ke Kota Medan. Saya langsung mencuri uang Ayah tiri saya dan pergi ke sana sendirian dengan menggunakan bus. Sesampai di kota Medan saya berusaha mencari ayah selama beberapa hari. Tetapi saya kehabisan uang, lalu saya mulai mengemis dari rumah ke rumah. Sampai suatu ketika saya ditangkap polisi. Saya bertanya, "Apa salah saya?" Katanya kamu termasuk daftar pencarian orang hilang, dan akan dikirim kembali ke Jakarta. Saya benar-benar kecewa karena saya tidak berhasil menemukan ayah di sana.

Sejak saat itu saya semakin banyak mendengar suara-suara yang menyuruh saya ini dan itu. Namun kini saya tak bisa apa-apa karena seorang paman dari pihak ayah tiri saya, ditugaskan untuk menjaga ke mana pun saya pergi, termasuk ketika di sekolah. Ruang gerak saya semakin sempit. Saya merasa menjadi seperti tawanan.

Suara-suara lembut itu semakin banyak dan mulai mengajak saya berbincang-bincang ketika saya sedang sendirian. Namun, sejak saat itu pula ibu jadi sering memarahi saya. "Kenapa?", saya bertanya. Katanya saya sering berbicara dan tertawa sendiri. Saya jawab itu tidak benar. Suara -suara itulah yang mengajak saya mengobrol, mereka adalah kawan-kawan setia saya.

Ibu saya benar-benar seorang yang keji. Ia malah memasukkan saya ke rumah sakit jiwa Grogol. Saya berulang kali berteriak bahwa saya tidak gila. Namun, Ibu saya yang bengis tak peduli, ia tetap menyeret saya ke rumah sakit jiwa. Dari Grogol, saya pernah kabur namun saya tertangkap lalu dimasukkan ke dalam ruangan yang mirip neraka sebab pasien-pasien di dalamnya saling membenci dan kerap berkelahi satu sama lain. Saya pernah kena tinju, mengkibatkan sudut bibir saya berdarah. Ibu menganggap tidak ada perubahan pada diri saya untuk sembuh, kemudian ibu memindahkan saya ke rumah sakit jiwa Bogor. Di sana lebih tenang, saya suka. Namun, lagi-lagi ibu saya bertindak sewenang-wenang, ia mengeluarkan saya setelah tiga tahun berada di sana. Katanya di sana saya tak sembuh-sembuh dan akhirnya ibu sadar bahwa saya sebenarnya tidak gila.

Pada Pak Jaka, perawat yang berjaga sore itu, saya pamit pulang. Dengan pikiran yang penuh dan perasaan yang terharu, aku beranjak pergi. Lampu tabung yang remang-remang dan bayangan pada dinding-dinding putih rumah sakit mengiringi langkahku keluar dari bangsal psikiatri itu. Serayah kepak sayap kelelawar tak berbunyi di angkasa. Begitu juga dengan ruang yang baru saja kutinggalkan. Senyap. Tak ada suara.

Harapan saya sebagai seorang anak, semoga pada suatu hari ayah saya benar-benar datang menjemput dan membebaskan saya dari kekangan ibu saya yang tak berperasaan.  Amin.

/Jakarta 12 Juni 2014

0 komentar:

Posting Komentar

Kembali ke atas ↑