Katanya Karo Bukan Batak

Sumber: http://karobukanbatak.wordpress.com/2011/07/16/masyarakat-karo-tidak-pernah-berkepercayaan-batak/


Tanah Karo adalah terletak mulai dari selatan tepi Danau Toba bagian Timur laut terbentang luas ke utara samapai ke Selat Malaka dan dari sebelah barat mulai dari perbatasan Aceh sampai keperbatasan Simalungun di sebelah tenggara dan timur.
Daerahnya disebelah barat dan selatan bergunung- gunung , termasuk bagian- bagian dari Bukit Barisan atau dataran tinggi, sedangkan bagian utara dan timur adalah dataran rendah. Sebagai batas dari dataran tinggi dan rendah ini terletak gunung- gunung tinggi yaitu Gunung Sinabung ( 2451 M diatas permukaan Laut ) sebalah barat dan Gunung Sibayak (2060 M diatas permukaan laut) sebelah timurnya.

Sungai yang terbesar di tanah Karo ada 2 (dua) yang pertama bernama Sungai Wampu yang bermuara ke Selat malaka . Sungai ini berasal dari Lau Biang (Sungai Anjing) didataran tinggi Karo dan dan yang kedua Sungai Simpang yang bermuara Singkil di lautan Indonesia di pantai Pulau Sumatera bagian barat Aceh selatan. Sungai ini berasal dari Lau Jandi dan Lau Bengap, Renun menjadi Sungai Simpang kanan dan Sungai simpang kanan bergabung dengan sungai simpang kira dan hasil penggabungan ini menjadi simpang kiri (Rawe Alas) yang berasal dari dataran tinggi Tanah Karo.

Kedua muara sungai ini sangat erat sekali hubungannya dengan suku Karo. Muara sungai Simpang adalah tempat mendaratnya pertama kali nenek moyang orang-orang Karo, baik yang datangnya dari perbatasana Buram dan Thailand maupun yang datangnya dari Maderas India Selatan, seperti merga Sembiring Meliala dan lainnya. Sedangkan Muara Sungai Wampu terkenal dengan Kerajaan AROE atau AROE wampu (Kl 1200 – 1505) , sedangkan pada priode itu di Tapanuli ada pula kerajaan Batak dengan segala kepercayaannya itu yang diperintah oleh seorang raja dengan gelar Sori (Seri), Manga (Maha besar) Raja (Raja) berkedudukan di Sianjur Sagala Limbong Mulana (sekarang disebut tempat itu Tanjung Bunga).

Kerjaaanya orang Karo didataran rendah pantai Selat Malaka sudah berdiri selama 14 generasi. Pada Abad ke-XIX, Tanah Karo dataran rendah ini terbagi menjadi kesultanan Langkat dan Tanah Deli, serta tanah-tanah di kedua kesultanan ini dibagi- bagi oleh pemerintah Belanda menjadi tanah-tanah Konsesi selama 99 tahun. Berlainan halnya dengan dataran tinggi Karo dimana daerah ini pada Abad 19 penduduknya masih hidup dialam merdeka dibawah pemerintahan setempat secara regional yakni : Sibayak- Sibayak dengan sistim Pemerintahan Adat dibawah pengaruh pemerintahan Aceh.

Pada tahun 1128, daerah dataran rendah Karo atau lazim juga disebut Karo Jahe, telah masuk pengaruh agama Islam dari Kesultanan Daya Pasae ber-mazhab Syi”ah Fathimiah yang berpusat dimuara Pasai Aceh, sedangkan di daerah dataran Tinggi Karo atau Pegunungan pada Abad ke XIX tersebut diatas penduduk Karo belum ada yang memeluk agama Islam, kecuali seorang Raja dari Kerajaan JUHAR, yaitu Sebayak Kaeisar (Kaisar panggilan tenteranya, tentera jawi yang terdiri dari orang-orang Singkil, Alas dan Gayo berasal dari daerah Aceh dan kesemuanya telah beragama Islam).

Tiga bersaudara lelaki putra dari JUHANG (panggilan JUANG) TARIGAN dan ibunya beru Sebayang dari Rumah Jahe Perbesi, bersama istrinya bernama Paras beru Sebayang dari Kuala/Singalorlau dan seaorang anaknya Sebayak Juan (Pa Jalapi). Dan inipulah latar belakang sejarah mengapa merga Tarigan Sibero dari Kerajaan Juhar ini oleh pemerintah Belanda dikucilkan karena Belanda Khuatir pengaruh Aceh yang melawan tetap ada di Kerajaan ini kemudian hari sehingga Sibayak Kaisar adalah salah seorang sahabat dari Sultan Daut dari Kerajaan Aceh dan Sultan ini menganjurkan supaya Sibayak Kaisar memeluk agama Islam, maka inilah orang Karo di dataran Tinggi yang pertama menjadi Islam dan meninggalkan kepercayaan agama pemena asal kata Bergu suatu sekte agama Hindu Ciwa.

Pada permulaan abad XX tahun (1904-1905) seluruh dataran tinggi Karo ini peraktis telah diduduki oleh tentera Belanda dan Kapten Coleijn menjadi penguasa perang daerah militer (Militair Gezaghebber) didataran tinggi Karo dan sebelumnya telah mengetahui keadaan raja- raja dan rakyatnya di daerah ini dan Poortman mantan Controleur Sipirok di daerah Tapanuli diangkat menjadi Reggeringsgemachtigde Belanda di dataran tinggi Karo dan menetapkan Kabanjahe sebagai ibu kota dataran tinggi ini.

Poortman dari Sipirok membawa baginda Johannes Pohan seorang guru Zending dan menerpakan menjadi manteri Polisi di kabanjahe dan keduanya berjasa untuk menegakkan Pax Newerlandica disamping Law and Order di daerah ini.

Sumber: Facebook Ngajarsa Sinuraya Bre Bangun dan WordPress Karo Bukan Batak
Ganti Judul: Katanya Karo Bukan Batak
Judul Asli: Masyarakat Karo Tidak Pernah Berkepercayaan Batak

0 komentar:

Posting Komentar

Kembali ke atas ↑